SDK Sang Timur Grajagan Matangkan Tari Remo untuk Festival Jawane Guyub Rukun di Banyuwangi

1poie.jpg SDK Sang Timur Grajagan Latihan Tari untuk Festival Jawane Guyub Rukun (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Persiapan menuju Festival Jawane Guyub Rukun (FJGR) terus menunjukkan perkembangan positif. Salah satu penampilan yang tengah dimatangkan berasal dari siswa-siswi SDK Sang Timur Sumberjati, Desa Grajagan, yang saat ini intensif berlatih seni tari di bawah bimbingan guru seni tari, Ika Setyawati.


Ika Setyawati yang merupakan alumnus Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya Jurusan Seni Tari mengungkapkan bahwa pada festival mendatang para siswa akan membawakan Tari Remo Boleh Jombangan,  salah satu tari tradisional Jawa Timur yang dikenal memiliki karakter gerak tegas, dinamis, dan penuh semangat.


Lima siswa yang akan tampil dalam pementasan tersebut merupakan siwa siswi kelas 3 dan 4.


Menurut Ika, proses latihan menghadapi sejumlah tantangan, terutama karena para siswa selama ini lebih akrab dengan karakter tari Banyuwangi yang memiliki pakem dan ekspresi gerak berbeda.


"Anak-anak terbiasa dengan tarian Banyuwangi. Tantangan terbesarnya adalah mengajak mereka keluar dari zona nyaman. Terutama anak-anak perempuan yang biasanya membawakan gerakan lemah gemulai, dalam Tari Remo mereka harus tampil gagah, tegas, dan penuh percaya diri," ujarnya.


Untuk memaksimalkan penampilan, para siswa dijadwalkan menjalani latihan intensif selama tujuh hari hingga menjelang pelaksanaan festival.


Sementara itu, panitia FJGR menegaskan bahwa pentas seni yang akan digelar tidak hanya menghadirkan kesenian Jawa, tetapi juga berbagai kesenian lokal yang tumbuh di tengah masyarakat dengan latar belakang agama yang beragam. Beberapa di antaranya adalah seni hadrah, balaganjur, dan berbagai bentuk kesenian tradisional lainnya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Grajagan.


Salah satu panitia, Liswati menyampaikan bahwa Festival Jawane Guyub Rukun dirancang sebagai ruang perjumpaan warga lintas kelompok melalui jalur kebudayaan dan kesenian.


"Festival ini merupakan wadah kolektif masyarakat untuk memperkuat kerukunan dan keguyuban warga. Kami ingin menunjukkan bahwa kebudayaan dan kesenian dapat menjadi jembatan yang menyatukan berbagai latar belakang dalam suasana yang harmonis," ujarnya.


Menurutnya, keterlibatan pelajar, komunitas seni, kelompok keagamaan, hingga warga dari berbagai lingkungan menjadi cerminan semangat gotong royong yang menjadi ruh penyelenggaraan festival tersebut.


Melalui berbagai pertunjukan seni, kuliner tradisional, sarasehan budaya, serta partisipasi masyarakat lintas usia dan lintas agama, Festival Jawane Guyub Rukun diharapkan menjadi ruang belajar bersama untuk merawat warisan budaya sekaligus memperkuat persaudaraan sosial di tengah masyarakat Banyuwangi, khususnya wilayah selatan. (*)