Di Tengah Status Waspada, Gunung Raung Jadi Laboratorium Alam Mahasiswa Ilmu Bumi

20260620_171233.jpg Mahasiswa Belajar di Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung, Banyuwangi (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Status Gunung Raung yang masih berada pada Level II atau Waspada menjadi momentum bagi puluhan mahasiswa untuk belajar langsung mengenai sistem pemantauan gunung api. Sejumlah mahasiswa Universitas Udayana Bali melakukan kunjungan edukasi ke stasiun pemantauan Gunung Raung guna mempelajari cara kerja peralatan seismik dan GPS yang digunakan untuk memantau aktivitas vulkanik.


Kegiatan tersebut didampingi oleh Pengamat Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung. Mahasiswa Program Studi Fisika dengan konsentrasi Ilmu Bumi itu mendapat kesempatan melihat langsung berbagai instrumen pemantauan yang selama ini menjadi sumber data utama aktivitas Gunung Raung.


Ketua PPGA Raung, Agung Tri Subekti, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari pembelajaran lapangan agar mahasiswa memahami penerapan teori kebumian yang selama ini dipelajari di bangku kuliah.


"Mereka adalah mahasiswa Universitas Udayana jurusan Fisika dengan konsentrasi Ilmu Bumi. Tujuan kedatangannya untuk mempelajari secara langsung bagaimana sistem pemantauan gunung api bekerja, khususnya peralatan seismik dan GPS yang digunakan untuk memonitor aktivitas Gunung Raung," ujar Agung, Sabtu (20/06/2026)


Menurutnya, pembelajaran lapangan sangat penting karena mahasiswa dapat melihat secara langsung bagaimana data aktivitas gunung api direkam, dikirim, hingga dianalisis oleh petugas pengamatan.


"Kalau di kampus mereka banyak mempelajari teori. Nah, di sini mereka bisa melihat langsung alatnya, bagaimana sensor bekerja, bagaimana data direkam dan diteruskan ke pusat pemantauan. Ini menjadi pengalaman yang sangat berbeda dibandingkan hanya belajar di ruang kelas," jelasnya.


Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa juga melakukan simulasi sederhana untuk menguji sensitivitas sensor seismik. Mereka diminta memberikan getaran pada permukaan tanah untuk melihat respons alat pemantau yang terekam secara real time.


"Yang terlihat menghentak-hentakkan tanah itu sebenarnya bagian dari simulasi pengujian sensor seismik. Mereka ingin mengetahui bagaimana getaran kecil yang terjadi di permukaan dapat direkam oleh alat dan ditampilkan dalam bentuk grafik seismogram," kata Agung.


Ia menjelaskan, sensor seismik memiliki kemampuan mendeteksi berbagai jenis getaran, mulai dari aktivitas vulkanik, gempa tektonik hingga gangguan kecil di sekitar lokasi alat.


"Dengan praktik seperti ini mahasiswa bisa memahami bahwa alat seismik sangat sensitif. Bahkan getaran yang sengaja dibuat saat simulasi pun bisa langsung terbaca. Dari situ mereka belajar membedakan karakteristik sinyal yang muncul," terangnya.


Selain mempelajari sensor seismik, mahasiswa juga dikenalkan dengan perangkat GPS pemantauan deformasi gunung api. Peralatan tersebut berfungsi mendeteksi perubahan bentuk tubuh gunung yang dapat menjadi indikator peningkatan aktivitas vulkanik.


"GPS yang ada di kawasan Gunung Raung digunakan untuk memantau pergerakan atau deformasi tubuh gunung api. Data ini sangat penting karena dapat memberikan gambaran mengenai dinamika magma di bawah permukaan," ujar Agung.


Ia berharap kegiatan tersebut mampu menumbuhkan minat mahasiswa terhadap bidang kebumian dan mitigasi bencana.


"Kami senang karena generasi muda memiliki perhatian terhadap ilmu kebumian dan mitigasi bencana. Harapannya setelah melihat langsung proses pemantauan gunung api, mereka bisa memahami pentingnya data ilmiah dalam upaya mitigasi serta keselamatan masyarakat," ungkapnya.


Agung menambahkan, keberadaan stasiun pemantauan bukan hanya berfungsi merekam aktivitas Gunung Raung, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat maupun akademisi yang ingin mempelajari fenomena gunung api secara lebih mendalam.


"Gunung api bukan hanya objek yang harus diawasi, tetapi juga laboratorium alam yang sangat berharga untuk pendidikan dan penelitian. Karena itu kami terbuka untuk kegiatan akademik selama tetap mengikuti prosedur dan aturan keselamatan yang berlaku," pungkasnya.


Hingga saat ini, Gunung Raung masih berstatus Level II atau Waspada. Masyarakat dan wisatawan diimbau tidak mendekati pusat erupsi di kawah puncak dalam radius yang telah direkomendasikan oleh Badan Geologi guna mengantisipasi potensi bahaya aktivitas vulkanik. (ep)