Tak Lagi Memendam Perasaan, Siswa SDN 3 Kalipuro Temukan Ruang Aman Lewat Teman Bercerita

1aaa.jpg Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Universitas Brawijaya (UB) Ajak Siswa SDN 3 Kalipuro Ikuti Teman Bercerita (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam Program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) Kelompok 37 melaksanakan program Teman Bercerita di SD Negeri 3 Kalipuro, Banyuwangi, Sabtu (25/07/2026).


Kegiatan yang diikuti oleh siswa kelas IV hingga VI ini bertujuan meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya mengenali dan mengungkapkan emosi secara sehat, sekaligus menumbuhkan kesadaran akan bahaya perundungan (bullying) serta pentingnya menciptakan lingkungan pertemanan yang saling menghargai.


Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 (Good Health and Well-being) melalui peningkatan kesejahteraan psikologis anak, serta SDGs poin 4 (Quality Education) dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan mendukung perkembangan karakter peserta didik.


Program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia. Berdasarkan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar satu dari tiga remaja Indonesia usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental. Namun, hanya 2,6% yang mengakses layanan profesional dalam satu tahun terakhir (Pusat Kesehatan Reproduksi Universitas Gadjah Mada et al., 2022). 


Salah satu penyebab rendahnya perilaku mencari bantuan adalah adanya rasa takut, malu, dan kekhawatiran terhadap penilaian negatif dari lingkungan sekitar sehingga banyak individu memilih memendam permasalahan yang mereka alami (Pakerti & Ariana, 2024).


Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa MMD UB menghadirkan Teman Bercerita sebagai ruang aman bagi siswa untuk belajar mengenali emosi, menerima perasaan yang dimiliki, serta berani menyampaikan pengalaman maupun permasalahan kepada orang yang dipercaya. Selain memberikan edukasi mengenai dampak negatif perundungan, program ini juga mendorong siswa untuk membangun hubungan pertemanan yang saling menghargai, peduli, dan mendukung satu sama lain.


Kegiatan diawali dengan penyampaian materi secara interaktif mengenai bullying, pentingnya mengenali dan menerima emosi, serta keberanian untuk menyampaikan perasaan maupun pengalaman yang dialami. Melalui penyampaian yang disesuaikan dengan usia siswa sekolah dasar, mahasiswa mengajak peserta memahami perbedaan antara gurauan dan perundungan, dampak yang ditimbulkan, serta bagaimana menjadi teman yang mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi semua.


Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil yang masing-masing didampingi oleh mahasiswa MMD UB. Pada sesi ini, setiap pendamping berperan sebagai teman sekaligus pendengar yang memberikan ruang aman agar siswa dapat berbagi cerita tanpa rasa takut dihakimi.


Setelah sesi diskusi kelompok, siswa mengerjakan post-test berupa kuis singkat untuk mengukur pemahaman mereka terhadap materi yang telah disampaikan. Bersamaan dengan itu, setiap siswa juga mengisi Lembar Bercerita, yaitu media yang disediakan agar mereka dapat menuliskan secara bebas perasaan, pengalaman, harapan, maupun permasalahan yang ingin mereka sampaikan.


Suasana menjadi semakin hangat ketika beberapa perwakilan kelompok secara sukarela maju ke depan kelas untuk membagikan cerita mereka. Salah seorang siswa kelas VI menceritakan pengalamannya saat dituduh merusak layangan milik temannya sehingga membuatnya merasa sedih karena menerima tuduhan atas sesuatu yang tidak ia lakukan.


Keberanian tersebut kemudian mendorong siswa lain untuk ikut berbagi pengalaman. Ada siswa yang mengungkapkan bahwa dirinya tinggal bersama sang nenek karena orang tuanya bekerja di luar daerah sehingga hanya dapat bertemu ayahnya sekitar satu bulan sekali. Momen tersebut menunjukkan bahwa ketika anak diberikan ruang yang aman dan didengarkan tanpa dihakimi, mereka mampu mengungkapkan berbagai pengalaman yang selama ini dipendam.


Rumaiza selaku penanggung jawab program menjelaskan bahwa Teman Bercerita tidak hanya dirancang sebagai kegiatan edukasi, tetapi juga sebagai ruang yang membuat anak merasa aman untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.


"Kami ingin anak-anak tahu bahwa setiap perasaan yang mereka miliki layak untuk didengar. Harapannya, setelah kegiatan ini mereka lebih berani menyampaikan cerita, meminta bantuan ketika mengalami kesulitan, dan saling menjadi teman yang mendukung, bukan saling menyakiti," ujar Rumaiza.


Senada dengan itu, Marcelino, selaku penanggung jawab program, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi langkah awal untuk mengenali berbagai persoalan yang mungkin dialami siswa.


"Melalui sesi bercerita, kami menyadari bahwa banyak anak sebenarnya memiliki cerita yang selama ini belum pernah mereka sampaikan. Kami berharap program ini dapat menjadi awal bagi sekolah maupun orang tua untuk lebih peka terhadap kondisi emosional anak, sehingga berbagai permasalahan dapat dikenali dan ditangani lebih dini," jelas Marcelino.


Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif berdiskusi, saling mendengarkan cerita teman, serta menunjukkan keberanian untuk mengungkapkan pengalaman pribadi. Salah seorang siswa bahkan menyampaikan kesannya kepada mahasiswa MMD, "Kesini lagi ya, Kak. Nanti cerita lagi." Ungkapan sederhana tersebut menjadi gambaran bahwa kehadiran ruang aman seperti Teman Bercerita memberikan pengalaman yang bermakna bagi mereka.


Melalui program ini, siswa tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai bahaya perundungan, tetapi juga belajar mengenali emosi, berani menyampaikan perasaan, serta memahami pentingnya mencari bantuan ketika menghadapi permasalahan. Kehadiran Teman Bercerita diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mendeteksi berbagai persoalan yang dialami siswa sekaligus membangun budaya sekolah yang lebih peduli terhadap kesejahteraan psikologis anak.


Mahasiswa MMD UB Kelompok 37 berharap Teman Bercerita tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari, tetapi dapat menjadi inspirasi bagi sekolah untuk terus menghadirkan ruang yang aman dan suportif bagi peserta didik. Dengan demikian, setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh dalam lingkungan yang menghargai perasaan, mendorong keberanian untuk bersuara, serta membangun hubungan pertemanan yang sehat dan saling mendukung. (*)