Ilustrasi AI
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Kronologi meninggalnya jemaah haji asal Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, H. Bilal bin Sangidun, di Tanah Suci akhirnya terungkap.
Jemaah yang tergabung dalam Kloter SUB 83 tersebut diketahui sempat menjalani pemantauan intensif oleh Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) akibat gangguan pernapasan sebelum mengembuskan napas terakhir di Mekkah, Arab Saudi, Rabu (03/06/2026).
Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menjelaskan, almarhum merupakan jemaah lanjut usia yang beberapa hari terakhir mendapatkan pengawasan medis secara intensif.
"Berdasarkan laporan medis, pada 31 Mei 2026 almarhum mengeluhkan sesak napas disertai batuk berdahak dengan hasil pemeriksaan menunjukkan saturasi oksigen (SpO₂) sebesar 88 persen, di bawah batas normal," ujar Amir.
Tim kesehatan kemudian memberikan terapi rutin, observasi ketat, serta melakukan konsultasi dengan dokter spesialis paru. Kondisi almarhum sempat menunjukkan perbaikan dengan peningkatan saturasi oksigen hingga mencapai 90 persen.
Namun pada Rabu (03/06/2026), kondisi kesehatannya kembali menurun. Saat menjalani pemeriksaan rutin dan tindakan nebulisasi, almarhum mengeluhkan sesak napas, badan lemas, serta tidak memiliki nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah 100/60 mmHg, denyut nadi 103 kali per menit, dan saturasi oksigen turun hingga 71 persen.
Tim kesehatan segera merekomendasikan rujukan untuk mendapatkan penanganan lanjutan. Sekitar 30 menit kemudian, keluarga melaporkan almarhum dalam kondisi tidak sadar dengan bekas muntahan di sekitar tubuhnya. Saat petugas melakukan pemeriksaan kegawatdaruratan, tekanan darah dan denyut nadi sudah tidak teraba.
"Petugas kesehatan kemudian melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) sebanyak tiga siklus. Namun upaya tersebut tidak berhasil mengembalikan fungsi jantung dan pernapasan pasien. Almarhum dinyatakan meninggal dunia pada pukul 10.12 Waktu Arab Saudi," terangnya.
Amir menjelaskan, berdasarkan hasil pemeriksaan medis, penyebab kematian almarhum adalah aspirasi, yakni kondisi ketika muntahan atau isi lambung masuk ke saluran pernapasan dan paru-paru sehingga menyebabkan gangguan pernapasan berat yang dapat berujung pada henti napas dan henti jantung.
“Pada usia lanjut, terutama yang sedang mengalami gangguan pernapasan dan kondisi fisik yang menurun, risiko aspirasi menjadi lebih tinggi. Karena itu setiap keluhan sesak napas, muntah, penurunan kesadaran, tidak mau makan atau minum, serta penurunan kondisi umum harus segera dilaporkan kepada petugas kesehatan,” jelas Amir.
Hingga saat ini, kondisi kesehatan jemaah haji Banyuwangi secara umum dilaporkan masih terkendali. Dari total 1.317 jemaah Kloter 82 hingga 85, sekitar 401 orang atau 30,4 persen masuk kategori risiko tinggi dan terus dipantau oleh petugas kesehatan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani turut menyampaikan belasungkawa atas wafatnya H. Bilal saat menunaikan ibadah haji.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Semoga almarhum Bapak H. Bilal bin Sangidun memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT, seluruh amal ibadah hajinya diterima, diampuni segala khilafnya, serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan,” ujar Ipuk.
Dengan meninggalnya H. Bilal, jumlah jemaah haji asal Banyuwangi yang wafat di Tanah Suci selama musim haji 2026 menjadi dua orang. Sebelumnya, Patonah (71), warga Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, yang tergabung dalam Kloter SUB 82, meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Mina akibat kondisi kesehatan yang menurun. (rq)

