Pelatihan Batik Sritanjung Berbasis Relief Candi Penataran (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Blitar bekerja sama dengan Universitas PGRI Banyuwangi, PKBM Mamba'ul Huda, PKBM Alfatih, PKBM Pusaka sukses menyelenggarakan pelatihan batik bertajuk "Sritanjung dalam Sehelai Kain: Inovasi Seni Batik Berbasis Relief Candi Penataran sebagai Representasi Ingatan Kolektif Nasional (IKON) Banyuwangi." Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara Tahun 2026 yang berlangsung pada 12–18 Juli 2026 di Kabupaten Banyuwangi.
Program ini bertujuan mengembangkan inovasi motif batik yang berakar pada kekayaan sejarah dan budaya Nusantara, khususnya kisah Sri Tanjung yang dipahat pada relief Candi Penataran. Melalui pendekatan berbasis riset sejarah, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan membatik, tetapi juga diajak memahami bahwa batik merupakan media pelestarian sejarah, penguatan identitas budaya, sekaligus pengembangan ekonomi kreatif masyarakat.
Pelaksanaan kegiatan melibatkan Batik Muktiyasa sebagai mitra industri kreatif yang mendampingi proses produksi batik, sementara PKBM Mamba'ul Huda, PKBM Alfatih, PKBM Pusaka berperan sebagai mitra pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan warga belajar sebagai peserta pelatihan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku industri, dan lembaga pendidikan masyarakat ini menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan inovasi seni yang berbasis pada potensi budaya lokal.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai sejarah Sri Tanjung, nilai-nilai budaya yang terkandung dalam relief Candi Penataran, serta proses transformasi unsur-unsur visual relief menjadi motif batik kontemporer. Materi disampaikan secara interaktif oleh tim pelaksana sehingga peserta memperoleh pemahaman mengenai filosofi di balik setiap motif yang akan dikembangkan.
Setelah sesi teori, peserta dari PKBM Mambaul Huda, PKBM Alfatih, PKBM Pusaka, perwakilan mahasiswa Bimbingan dan Konseling Universitas PGRI Banyuwangi mengikuti praktik membatik yang didampingi oleh tim pengrajin Batik Muktiyasa, serta mahasiswa yang terlibat dalam program.
Tahapan praktik meliputi penyusunan desain motif, pemindahan pola ke atas kain, proses mencanting, pewarnaan, pelorodan, hingga tahap finishing. Pendampingan dilakukan secara intensif agar setiap peserta mampu memahami teknik membatik sekaligus mengimplementasikan konsep sejarah ke dalam karya batik.
Ketua Pelaksana kegiatan, Agus Hermawan, M.Pd, menjelaskan bahwa program ini merupakan bentuk implementasi hasil riset sejarah ke dalam karya seni yang memiliki manfaat langsung bagi masyarakat.
"Melalui program ini kami ingin menghadirkan sejarah dalam bentuk yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat. Relief Sri Tanjung di Candi Penataran tidak hanya menjadi objek kajian sejarah, tetapi juga menjadi inspirasi lahirnya motif batik baru yang memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi. Kami berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, mitra industri, dan masyarakat seperti ini dapat terus berkembang sehingga warisan budaya dapat dilestarikan melalui inovasi yang berkelanjutan," ujarnya.
Owner Batik Muktiyasa menyambut baik pelaksanaan program tersebut. Menurutnya, pendekatan penciptaan motif berbasis kajian sejarah memberikan perspektif baru dalam pengembangan batik Banyuwangi. Kehadiran motif Batik Sritanjung diharapkan mampu memperkaya khazanah batik daerah sekaligus meningkatkan nilai jual produk melalui cerita sejarah yang melekat pada setiap motif.
Sementara itu, peserta pelatihan mengaku memperoleh pengalaman baru selama mengikuti kegiatan. Selain belajar teknik membatik mulai dari pembuatan desain hingga proses finishing, mereka juga memperoleh pemahaman mengenai sejarah Sri Tanjung dan kaitannya dengan identitas budaya Banyuwangi. Pengetahuan tersebut menjadi motivasi bagi peserta untuk terus mengembangkan keterampilan membatik sekaligus turut melestarikan budaya lokal.
Melalui pelatihan ini berhasil dihasilkan sejumlah karya Batik Sritanjung yang mengadaptasi unsur-unsur visual relief Candi Penataran ke dalam komposisi motif khas Banyuwangi. Karya-karya tersebut diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat identitas batik berbasis sejarah, memperluas literasi budaya masyarakat, serta mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.
Program ini menjadi bukti bahwa sinergi antara Universitas Nahdlatul Ulama Blitar, Universitas PGRI Banyuwangi, Batik Muktiyasa, dan PKBM Mamba'ul Huda mampu menghadirkan inovasi yang menghubungkan dunia akademik, pelaku industri kreatif, dan masyarakat. Melalui kolaborasi tersebut, warisan budaya tidak hanya dijaga sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali menjadi karya yang bernilai edukatif, artistik, dan ekonomis bagi generasi masa kini dan mendatang. (*)

