Siswa Lereng Raung Banyuwangi Dibekali Mitigasi Erupsi saat MPLS, Banyak yang Penasaran Soal Mendaki Gunung

1mpls.jpg Materi Tentang Gunung Api dan Mitigasi Bencana pada MPLS di SMP Negeri 1 Songgon, Banyuwangi (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 1 Songgon, Banyuwangi, diisi materi yang berbeda dari biasanya. Ratusan siswa baru mendapat pembekalan tentang gunung api dan mitigasi bencana langsung dari petugas Pos Pantau Gunung Api (PPGA) Raung, Selasa (14/07/2026).


Sekolah yang berada di kawasan lereng Gunung Raung itu mengundang petugas PPGA untuk mengenalkan karakter gunung api sekaligus membekali siswa dengan pengetahuan mitigasi bencana sejak dini.


Anggota PPGA Raung, Mukijo, mengatakan materi yang disampaikan meliputi pengenalan gunung api, langkah-langkah penyelamatan saat erupsi, hingga prosedur evakuasi jika terjadi kondisi darurat.


"Kami memberikan pengenalan tentang gunung api, kemudian edukasi keselamatan dan evakuasi ketika terjadi erupsi. Harapannya anak-anak memahami apa yang harus dilakukan apabila sewaktu-waktu terjadi peningkatan aktivitas Gunung Raung," kata Mukijo.


Menurut Mukijo, kegiatan PPGA menjadi pemateri dalam MPLS merupakan yang pertama kali dilakukan atas undangan sekolah. Meski begitu, edukasi kebencanaan kepada pelajar maupun masyarakat sebenarnya sudah rutin dilaksanakan melalui berbagai kegiatan sosialisasi.


"Kalau untuk MPLS memang baru pertama kali sekolah mengundang kami sebagai pemateri. Tetapi sosialisasi ke sekolah maupun masyarakat memang sudah menjadi kegiatan rutin kami," ujarnya.


Pada hari yang sama, PPGA Raung juga memberikan materi serupa kepada siswa baru di SMK Muhammadiyah 9 Gambiran, sehingga terdapat dua kegiatan MPLS yang diisi oleh petugas PPGA.


Selama penyampaian materi, antusiasme siswa terlihat tinggi. Banyak peserta memanfaatkan sesi tanya jawab untuk menggali informasi seputar aktivitas gunung api.


"Banyak yang bertanya kenapa di Pulau Jawa banyak gunung api, apa yang harus dilakukan saat terjadi erupsi, apakah aman mendaki gunung, bagaimana prosedur pendakian yang benar, sampai nanti kalau harus mengungsi itu ke mana," tutur Mukijo.


Ia menilai rasa ingin tahu siswa menjadi modal penting untuk membangun budaya sadar bencana sejak dini, terutama bagi pelajar yang tinggal di kawasan lereng Gunung Raung.


"Kami ingin menanamkan bahwa hidup berdampingan dengan gunung api harus dibarengi dengan pengetahuan mitigasi. Dengan begitu, ketika ada informasi resmi mengenai peningkatan aktivitas gunung, mereka tidak panik dan tahu langkah yang harus dilakukan," pungkasnya. (ep)