Kegiatan Bertajuk Tandang Bareng di Waroeng Kemarang, Desa Tamansuruh, Kec. Glagah, Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi – Kegiatan Halal Bihalal dan silaturahmi bertajuk “Tandang Bareng” digelar di Waroeng Kemarang, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Jumat (24/04/2026). Acara ini menghadirkan berbagai unsur masyarakat dan tokoh sebagai bagian dari upaya mempererat kebersamaan.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Mempererat Kedaulatan Bangsa, dengan Berakar Budaya Nusantara”. Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, Ketua DPD Masyarakat Adat Nusantara (MATRA) Kabupaten Banyuwangi Teguh Eko Rahadi, serta Ketua DPW MATRA Jawa Timur KPP Srie Soeputro Jowo Uja Ciptonagoro. Selain itu, turut hadir Mayor Jenderal TNI (Mar) Dr. Oni Junianto sebagai keynote speaker.
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menyampaikan bahwa kegiatan halal bihalal menjadi bagian dari tradisi yang mengandung nilai kebersamaan.
"Halal Bihalal bukan hanya sekadar tradisi, melainkan cermin dari kearifan lokal yang kita warisi. Melalui kebersamaan seperti ini, kita secara tidak langsung sedang merawat dan menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus. Ini adalah cara yang paling indah untuk menjaga identitas kita sebagai masyarakat Banyuwangi yang berbudaya dan beradab," jelas Wabup Mujiono.
Ketua DPD MATRA Banyuwangi, Teguh Eko Rahadi, menyampaikan pentingnya menjaga nilai budaya di tengah perkembangan zaman.
"Budaya bukan sekadar warisan yang ditinggalkan masa lalu, melainkan cahaya yang menerangi masa depan. Melalui wadah seperti ini, kita ingin memastikan bahwa nilai-nilai luhur tidak pudar ditelan zaman, melainkan terus menjadi pedoman dalam bertindak dan bermasyarakat. Kita kuat, karena kita tahu dari mana kita berasal," ujarnya.
Sementara itu, Mayor Jenderal TNI (Mar) Dr. Oni Junianto menyoroti peran budaya dalam menjaga persatuan.
"Keberagaman budaya adalah benteng terkuat kita dari ancaman perpecahan. Menjaga nilai-nilai budaya sama artinya dengan menjaga fondasi negara. Kebudayaan harus menjadi perekat yang memperkokoh persatuan di dalam koridor kebangsaan, bukan justru menjadi pemisah. Marilah kita rawat tradisi ini sebagai wujud cinta tanah air demi NKRI yang abadi," tegasnya.
Ketua DPW MATRA Jawa Timur, KPP Srie Soeputro Jowo Uja Ciptonagoro, juga menyampaikan pentingnya pemahaman terhadap keberagaman dalam kehidupan sehari-hari.
"Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar tulisan, melainkan harus menjadi landasan kesadaran dalam cara berpikir dan bertindak. Perbedaan adalah anugerah Tuhan yang harus kita syukuri dan jadikan kekuatan, bukan alasan untuk menjauh. Kesatuan berpikir akan melahirkan kesatuan tindak," terangnya.
Kegiatan tersebut ditutup dengan tausiah oleh KH Suyuti Toha, Pengasuh Pondok Pesantren Mansyaul Huda Tegaldlimo.
"Persatuan Indonesia adalah amanah Ilahi yang harus kita jaga sepenuh jiwa. Di atas segala perbedaan suku, adat, dan pandangan, kita berdiri di atas satu tanah air yang sama. Menjaga kerukunan dan menghormati sesama adalah kewajiban kita agar bangsa ini tetap kokoh, damai, dan bermartabat," pungkasnya. (*)

