Program Ramadhan Camp yang Diselenggarakan Oleh SMP Queen Ibnu Sina Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi – Sebanyak 102 siswa SD/MI kelas 4, 5, dan 6 se-Kabupaten Banyuwangi mengikuti Ramadhan Camp Part 4 yang diselenggarakan SMP Queen Ibnu Sina di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Ibnu Sina. Kegiatan berlangsung selama dua hari, Sabtu (28/02/2026) hingga Minggu (01/03/2026).
Selama kegiatan, para peserta diperkenalkan dengan suasana pendidikan berbasis pesantren yang menekankan pembiasaan adab, kedisiplinan, dan tanggung jawab. Anak-anak dibimbing untuk bertutur kata baik, bersikap santun, serta saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari.
Selain penguatan karakter, peserta juga mendapatkan pembelajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris melalui metode khusus yang menjadi ciri khas SMP Queen Ibnu Sina. Pada acara penutupan yang dihadiri para wali, para peserta tampil menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris di hadapan orang tua. Mereka dilaporkan mampu menghafal sekitar 50 hingga 100 kosa kata dalam dua bahasa tersebut selama kegiatan berlangsung.
Salah satu peserta menyampaikan, “Ikut Ramadhan camp seru, asyik, banyak temannya. Aku jadi berani ngomong pakai bahasa Arab dan Inggris. Pengen sekolah sini nantinya!” Peserta lain menambahkan, “Di sini seru. Aku jadi belajar supaya lebih sopan dan rajin ibadah. Kakak-kakaknya juga baik banget.”

Muassis Pondok Pesantren Ibnu Sina, KH. Masykur Ali, dalam pengarahannya menyampaikan bahwa meskipun berlangsung singkat, kegiatan tersebut menjadi sarana pembiasaan kebaikan bagi anak-anak.
“Di pesantren, anak-anak dibiasakan dengan tutur kata yang baik, perilaku yang baik, serta keteladanan yang baik. Semua tentang kebaikan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendidik anak, termasuk mempertimbangkan pendidikan berbasis pesantren sebagai lingkungan yang mendukung pembentukan iman dan akhlak.
Ramadhan Camp 2026 menjadi bagian dari program pembinaan karakter dan penguatan bahasa yang terus dikembangkan SMP Queen Ibnu Sina dengan mengusung jargon “Kuasai Bahasa Kuasai Dunia.” (*)

