Produksi Tahu di Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa bulan terakhir mulai memukul pelaku usaha tahu dan tempe di Banyuwangi. Dalam dua pekan terakhir, harga kedelai yang menjadi bahan baku utama produksi tahu melonjak tajam dari kisaran Rp 8.700 per kilogram menjadi Rp 11.200 per kilogram.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh Ageng Susmiarto, pengusaha tahu di Kecamatan Wongsorejo. Menurutnya, tren kenaikan harga kedelai sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa bulan lalu, namun lonjakan paling signifikan terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
"Kalau kenaikan sebenarnya sudah sekitar tiga sampai empat bulan terakhir. Awalnya naik sedikit-sedikit, ada yang Rp 50, Rp 100 sampai Rp 200. Tapi belakangan ini hampir setiap minggu selalu ada kenaikan," ujar Ageng, Jumat (12/06/2026).
Ageng menduga meroketnya harga kedelai tidak lepas dari pengaruh nilai tukar dolar Amerika Serikat yang terus menguat. Selain kedelai, sejumlah kebutuhan pokok lainnya juga mengalami kenaikan harga.
"Menurut saya pasti ada pengaruh dari kurs dolar. Sekarang banyak kebutuhan yang ikut naik, termasuk kedelai yang sebagian besar masih impor," katanya.
Meski biaya produksi terus membengkak, Ageng mengaku belum berani menaikkan harga jual maupun mengurangi ukuran tahu yang diproduksinya. Persaingan usaha yang ketat membuatnya harus berpikir matang sebelum mengambil keputusan tersebut.
"Kalau harga dinaikkan, saya khawatir pelanggan pindah ke produsen lain. Mengurangi ukuran juga sulit karena konsumen pasti langsung membandingkan," ungkapnya.
Akibat kenaikan harga bahan baku, keuntungan usaha yang selama ini diperoleh Ageng mengalami penurunan cukup besar. Setiap hari ia mengaku kehilangan potensi pendapatan hingga Rp 2 juta.
Dalam sehari, Ageng mampu memasarkan sekitar 200 timba tahu ke berbagai wilayah di Banyuwangi. Kenaikan harga kedelai membuat margin keuntungan setiap timba berkurang sekitar Rp 10 ribu.
"Kalau dikalikan 200 timba per hari, ya sekitar Rp 2 juta pendapatan yang hilang. Itu cukup berat bagi kami," jelasnya.
Di tengah tekanan biaya produksi, Ageng juga harus tetap membayar puluhan pekerja yang menggantungkan hidup dari usaha tersebut. Saat ini, pabrik tahu miliknya mempekerjakan sekitar 50 karyawan dan menghabiskan hampir satu ton kedelai impor setiap hari.
Ia mengaku masih berusaha bertahan. Namun jika harga kedelai kembali naik hingga menyentuh Rp 12 ribu per kilogram, kenaikan harga jual tahu kemungkinan tidak bisa dihindari.
"Kalau sudah tembus Rp 12 ribu per kilogram, mau tidak mau harga tahu harus naik. Kalau tetap dipaksakan bertahan dengan harga sekarang, usaha bisa kolaps. Padahal tahu Wongsorejo ini sudah menjadi salah satu produk khas Banyuwangi dan kami menyuplai hampir seluruh kecamatan," tegasnya.
Saat ini harga kedelai impor di tingkat distributor Banyuwangi rata-rata berada di kisaran Rp 11 ribu hingga Rp 11.200 per kilogram. Para pelaku usaha berharap harga kembali stabil agar roda produksi dan distribusi tahu-tempe tetap berjalan normal tanpa membebani konsumen. (ep)

