Tempat Produksi UMKM Pawonkoe Mevrouw di Banyuwangi (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Di tengah persaingan industri makanan ringan, UMKM Pawonkoe Mevrouw di Banyuwangi berhasil membuktikan bahwa limbah hasil perikanan dapat diubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Kulit cumi yang sebelumnya kerap dibuang kini disulap menjadi rambak kulit cumi, camilan khas yang mulai banyak diburu konsumen.
Usaha yang dirintis Diah Lestari itu berkembang seiring meningkatnya minat pasar terhadap produk olahan laut khas Banyuwangi. Namun di balik tingginya permintaan tersebut, Diah sempat menghadapi berbagai kendala produksi.
Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan alat peniris minyak yang masih berkapasitas kecil. Akibatnya, proses produksi berjalan lambat dan kualitas produk belum maksimal.
"Permintaan terus bertambah, tetapi kapasitas produksi kami saat itu masih terbatas. Proses penirisan minyak juga kurang optimal sehingga memengaruhi kualitas rambak yang dihasilkan," ujar Diah, Rabu (17/06/2026).
Tak hanya itu, sisa potongan cumi yang tidak digunakan dalam proses produksi selama ini hanya menjadi limbah. Kondisi tersebut membuat potensi nilai ekonomi dari bahan baku belum sepenuhnya dimanfaatkan.
Melalui program pendampingan dari Politeknik Negeri Banyuwangi (Poliwangi), UMKM Pawonkoe Mevrouw kemudian mendapatkan bantuan teknologi produksi berupa mesin spinner berkapasitas lebih besar serta mesin grinder untuk mengolah limbah cumi menjadi bubuk kaldu.
Dengan peralatan baru tersebut, kapasitas produksi rambak kulit cumi meningkat signifikan. Produk yang dihasilkan juga lebih kering, renyah, dan memiliki daya simpan lebih lama.
"Produksi sekarang jauh lebih cepat. Hasil rambaknya lebih bagus karena kadar minyaknya berkurang. Selain itu, potongan cumi yang dulu terbuang sekarang bisa kami olah menjadi kaldu cumi dan memiliki nilai jual," kata Diah.
Menurut Diah, pendampingan yang diberikan tidak hanya berupa bantuan alat, tetapi juga pelatihan pengelolaan usaha, mulai dari operasional produksi hingga pencatatan keuangan sederhana.
Hal itu membuat usaha yang dirintisnya semakin siap berkembang dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Poliwangi, Trias Ayu Laksanawati, mengatakan program tersebut bertujuan membantu pelaku usaha meningkatkan produktivitas sekaligus memanfaatkan limbah hasil produksi agar memiliki nilai tambah.
"Kami ingin UMKM tidak hanya meningkatkan jumlah produksi, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas dan memiliki daya saing tinggi," ujarnya.
Hasil pendampingan tersebut mulai terlihat. Kapasitas produksi rambak kulit cumi meningkat sekitar 50 persen, sementara limbah produksi yang sebelumnya terbuang kini menjadi sumber pendapatan tambahan melalui produk kaldu cumi.
Bagi Diah, perubahan itu menjadi angin segar di tengah upayanya mengembangkan usaha berbasis potensi lokal Banyuwangi.
"Alhamdulillah, usaha kami semakin berkembang. Semoga produk rambak kulit cumi ini bisa semakin dikenal dan menjadi salah satu kebanggaan kuliner Banyuwangi," pungkasnya. (ep)

