Dinas PU Pengairan Banyuwangi Perkuat Kolaborasi dengan Petani dan Masyarakat Rawat Irigasi

1peneub.jpg Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi (Foto: Riqi/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Pengelolaan jaringan irigasi di Kabupaten Banyuwangi tidak hanya mengandalkan pemerintah. Keterlibatan petani, kelompok Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), komunitas, hingga masyarakat menjadi bagian dalam menjaga kelancaran distribusi air ke lahan pertanian.


Plt Kepala Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi melalui Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan, Deddy Koerniawan, mengatakan keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan untuk menghentikan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.


Menurutnya, pemeliharaan jaringan membutuhkan sinergi berbagai pihak agar fungsi layanan irigasi tetap berjalan. Selain staf dan karyawan Dinas Pengairan, sejumlah mitra turut terlibat, di antaranya HIPPA, komunitas Sungai Watch, kader Sekardadu, serta elemen masyarakat lainnya.


"Keterbatasan anggaran bukanlah alasan bagi Dinas Pengairan Kabupaten Banyuwangi untuk tidak menjalankan kegiatan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi secara optimal. Keberhasilan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan tidak hanya bergantung pada peran staf dan karyawan Dinas Pengairan, tetapi juga didukung oleh sinergi yang kuat dengan berbagai mitra, seperti Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA), komunitas Sungai Watch, kader Sekardadu, serta berbagai elemen masyarakat lainnya," kata Deddy kepada BWI24Jam.


Salah satu bentuk kolaborasi tersebut terjadi saat Dam Concrong di Desa Rogojampi, Kecamatan Rogojampi, mengalami kerusakan. Kondisi tersebut menyebabkan aliran air irigasi menuju lahan pertanian di tiga desa, yakni Watukebo, Karangbendo, dan Blimbingsari, terganggu.


Dalam kondisi tersebut, petani bersama pengurus HIPPA bergotong royong membangun tangkis darurat untuk memulihkan aliran air. Upaya tersebut dilakukan agar distribusi air irigasi dapat kembali berjalan dan kebutuhan air untuk lahan pertanian tetap terpenuhi.


Deddy mengatakan, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu bagian penting dalam pengelolaan jaringan irigasi di Banyuwangi. Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan masyarakat juga diperlukan untuk menghadapi berbagai persoalan dalam pengelolaan sumber daya air.


"Kolaborasi ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan fungsi jaringan irigasi secara efektif, terukur, dan berkesinambungan," ujarnya.


Ia menambahkan, penguatan kemitraan antara pemerintah, petani, dan masyarakat diharapkan dapat mendukung keberlanjutan layanan irigasi sekaligus menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian di Banyuwangi. (rq)