Mangrove di Kawasan Hutan Produksi RPH Kedunggebang, Kec. Tegaldlimo, Banyuwangi (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Potensi alam tersembunyi di wilayah selatan Banyuwangi mulai terkuak. Kawasan hutan produksi di RPH Kedunggebang, BKPH Blambangan, KPH Banyuwangi Selatan, kini dilirik sebagai calon destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan.
Selama ini kawasan tersebut cenderung luput dari perhatian. Padahal, area itu menyimpan ekosistem mangrove yang tumbuh alami dan masih terjaga dengan baik. Keberadaan mangrove ini dinilai memiliki peran penting, terutama dalam menghadapi ancaman abrasi dan perubahan iklim.
Kepala RPH Kedunggebang, Syaiful Anam, mengungkapkan bahwa luas kawasan hutan produksi di petak 130e mencapai sekitar 348,8 hektare. Menurutnya, angka tersebut tidak hanya menunjukkan luas wilayah, tetapi juga besarnya potensi yang bisa dikembangkan.
“Ekosistem mangrove di kawasan ini memiliki nilai ekologis tinggi. Selain berfungsi menahan abrasi, juga menjadi habitat berbagai biota pesisir dan berperan dalam menyerap emisi karbon,” ujarnya.
Tak hanya berfungsi secara ekologis, kawasan ini juga dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi wisata edukasi. Di tengah tren wisata berbasis alam, hutan mangrove Kedunggebang dapat menjadi ruang belajar terbuka bagi masyarakat.
Pengunjung nantinya bisa menikmati suasana alami dengan berjalan di jalur kayu di tengah rimbunnya mangrove, mendengarkan suara satwa liar, hingga melihat langsung kehidupan ekosistem pesisir. Pengalaman tersebut tidak hanya menawarkan rekreasi, tetapi juga edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Pengembangan kawasan ini diharapkan tetap mengedepankan prinsip konservasi berkelanjutan, sehingga manfaat ekonomi bisa berjalan beriringan dengan upaya pelestarian alam. Jika dikelola dengan baik, mangrove di Banyuwangi selatan berpotensi menjadi destinasi baru yang menarik sekaligus mendidik bagi masyarakat luas. (ep)

