Ayah, Adek Kangen Ayah, Tangis Anak Kembar Sambut Jenazah Ponco Korban KM Virgo

1ayah.jpg Anak Alm. Ponco Budi Raharjo saat Ucapkan Pesan Terakhir untuk Sang Ayah Korban KM Virgo (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - “Ayah tenang di sana ya. Banyak yang sayang sama Ayah. I love you, Ayah. Ayah tenang di sana. Ayah jagain dari sana.”


Kalimat penuh cinta itu terucap di tengah tangis anak kembar Ponco Budi Raharjo, Savira Niken Raharjo (19) dan Tiara Niken Raharjo  (19),  saat menyambut kedatangan jenazah ayah mereka di rumah duka, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Sabtu (10/10/2026).


Di hadapan peti jenazah sang ayah, kerinduan yang selama ini tertahan akhirnya pecah. Hampir sebulan keluarga menanti kabar Ponco setelah pria yang bekerja sebagai kernet truk ekspedisi itu menjadi korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Masalembo.


Kini, Ponco memang telah kembali ke rumah. Namun, kepulangannya bukan seperti yang diharapkan keluarga. Bukan langkah kaki yang terdengar di depan pintu, melainkan peti jenazah yang membawa tubuh ayah tercinta.


“Ayah udah sampai rumah. Adek kangen Ayah. Ayah sudah di surga sekarang,” ucap salah satu anak Ponco di tengah suasana duka.


Tangis keluarga dan kerabat mengiringi kedatangan peti jenazah berwarna biru tersebut. Istri dan kedua anak kembar Ponco tak kuasa menahan air mata saat menyambut kepulangan pria yang mereka cintai.


Salah satu anak Ponco juga memberikan penghormatan terakhir dengan ikut menyalatkan jenazah ayahandanya. Momen itu menjadi bagian dari perpisahan yang begitu berat bagi keluarga setelah melewati masa penantian panjang untuk mendapatkan kepastian nasib Ponco.


Kerabat korban, Andik Basuki, mengaku bersyukur jenazah adiknya akhirnya berhasil dipulangkan dan dapat dimakamkan di Banyuwangi.


“Kami bersyukur adik kami bisa pulang ke rumah dan dimakamkan. Anak-anak beliau ke depannya bisa merawat dan mendoakan,” ujar Andik.


Di tengah kehilangan tersebut, keluarga kini berusaha menata kembali kehidupan. Salah satu perhatian utama mereka adalah memastikan kedua anak kembar Ponco tetap melanjutkan pendidikan hingga menyelesaikan kuliah.


Andik menyebut, kedua anak Ponco saat ini tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember (Unej) semester tiga.


“Beliau memiliki dua anak yang kebetulan kembar di Fakultas Pertanian Unej semester tiga. Kami berharap mereka tetap lanjut dan sampai lulus,” katanya.


Kepergian Ponco bukan hanya meninggalkan kesedihan, tetapi juga perubahan besar dalam kehidupan keluarga. Karena itu, keluarga berupaya menjaga agar kebutuhan ekonomi, kehidupan sosial, dan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.


“Keluarga menata agar setelah kejadian ini, keberlangsungan sisi perekonomian, sosial, dan lainnya tetap berjalan normal kembali,” ungkap Andik.


Di mata keluarga dan warga yang mengenalnya, Ponco merupakan sosok pendiam, tetapi memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain. Ia disebut kerap membantu masyarakat yang membutuhkan, meski tidak banyak berbicara.


“Almarhum orangnya tipikal pendiam, tapi ringan tangan kepada masyarakat. Sering memberikan bantuan sosial kepada masyarakat. Makanya, tadi banyak yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada beliau,” tutur Andik.


Banyaknya warga yang datang ke rumah duka menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi Ponco. Sosok yang dikenal sederhana itu kini meninggalkan keluarga, kerabat, dan orang-orang yang pernah merasakan kebaikannya.


Bagi kedua anak kembarnya, kehilangan seorang ayah tentu bukan perkara mudah. Di usia ketika mereka masih menempuh pendidikan dan membutuhkan pendampingan orang tua, Ponco kini hanya bisa dikenang melalui doa dan kasih sayang yang telah ditinggalkannya.


Hari itu, keluarga akhirnya bisa mengantar Ponco ke peristirahatan terakhir. Namun, kerinduan kedua anaknya terangkum dalam kalimat sederhana yang menyayat hati: “Ayah, adek kangen Ayah". (ep)