Proses Pembuatan Tahu di Usaha Tahu Rumahan Desa Temuasri, Kec. Sempu, Banyuwangi (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Aroma kedelai yang diolah menjadi tahu menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari di Desa Temuasri, Kecamatan Sempu, Banyuwangi. Di sebuah usaha tahu rumahan milik Watini, produksi terus berjalan dari tahun ke tahun.
Usaha tersebut telah dirintis Watini sejak 2000. Berawal dari produksi skala kecil di rumah, usaha itu perlahan berkembang hingga mampu memproduksi ratusan kilogram tahu setiap hari.
Selama seperempat abad, tahu produksi Watini juga menjadi salah satu tujuan pedagang sayur keliling. Mereka datang mengambil tahu putih untuk kemudian dijual kembali kepada masyarakat di berbagai wilayah.
"Mulai tahun 2000 menjadi salah satu pionir pembuatan tahu rumahan. Dari skala kecil hingga skala menengah," ujar Watini.
Kini kapasitas produksinya mencapai sekitar 300 kilogram tahu per hari. Jumlah produksi tersebut membuat aktivitas di tempat usaha tidak pernah benar-benar sepi.
Setidaknya tujuh orang terlibat langsung dalam proses memasak dan memproduksi tahu. Setelah tahu selesai dibuat, ada pula sekitar 15 pedagang keliling atau melijo yang mengambil produk tersebut untuk dipasarkan kembali.
Dengan demikian, sekitar 22 orang menggantungkan penghasilan dari keberlangsungan usaha tahu tersebut.
"Produksi sehari sekitar 300 kilogram. Ada tujuh tenaga kerja yang masak, kemudian yang melijo ada 15 orang. Jadi total ada 22 orang yang menggantungkan hidup pada usaha produksi tahu ini," kata Watini.
Para pekerja tersebut berasal dari berbagai wilayah. Sebagian merupakan warga Desa Temuasri, sementara lainnya datang dari desa hingga kecamatan lain di sekitar lokasi usaha.
Bagi mereka, pekerjaan di usaha tahu itu menjadi bagian dari rutinitas sekaligus sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Begitu pula para pedagang keliling yang mengandalkan penjualan tahu sebagai salah satu mata pencaharian.
Rantai ekonomi sederhana itu terbentuk dari aktivitas produksi di dapur usaha Watini. Tahu yang dibuat setiap hari kemudian dibawa para pedagang keliling untuk dijajakan dari satu tempat ke tempat lainnya.
Seiring bertambahnya kapasitas produksi, Watini juga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlangsungan usaha, salah satunya terkait pengelolaan limbah produksi.
Sebelumnya, warga sekitar sempat mengeluhkan bau yang berasal dari limbah usaha tahu. Persoalan tersebut kemudian dimediasi bersama pemerintah desa, DLH Banyuwangi dan Satpol PP Kecamatan Sempu.
Watini mengatakan pihaknya berupaya menindaklanjuti rekomendasi DLH untuk memperbaiki sistem pengolahan limbah.
Salah satunya dengan menutup tampungan limbah menggunakan plastik. Sistem anaerob tertutup tersebut ditujukan untuk membantu perkembangbiakan bakteri yang menguraikan polutan penyebab bau.
"Sejauh ini sudah berkurang banyak dan mengurangi bau yang sebelumnya sempat dikeluhkan warga," ujarnya.
Saat ini terdapat lima kolam pengolahan limbah. Dua kolam digunakan untuk sedimentasi, dua kolam untuk aerasi, dan satu kolam sebagai bioindikator.
Watini juga pernah berinisiatif membuat pengolahan limbah dengan sistem biogas setelah melakukan studi banding. Pembangunan sistem tersebut dilakukan secara mandiri dengan biaya sekitar Rp 25 juta.
Namun, hasilnya masih belum sesuai harapan karena bau masih dirasakan masyarakat. Karena itu, pihaknya berupaya melakukan pengujian laboratorium untuk mengetahui kadar BOD dan COD.
"Namun hasilnya menurut masyarakat belum memuaskan karena masih bau. Sehingga kami berupaya untuk melakukan uji laboratorium kadar BOD dan COD," jelas Watini.
Selain itu, sesuai rekomendasi DLH, pihaknya melakukan pengecoran beton pada lima kolam pengolahan limbah. Watini juga mempelajari sejumlah referensi dan jurnal mengenai pengolahan limbah untuk mendapatkan sistem yang lebih efektif.
"Harapannya limbah yang dibuang sudah dalam kondisi jernih," tuturnya.
Koordinator Satpol PP Kecamatan Sempu Oktavianto Yuda mengatakan, pihaknya masih melakukan monitoring terhadap tindak lanjut hasil mediasi.
"Kami terus melakukan monitoring terkait tindak lanjut mediasi. Hasilnya, pihak pemilik usaha mulai melakukan pengerjaan saluran limbah sesuai rekomendasi dari pihak DLH," kata Yuda.
Selain pembenahan teknis, pemilik usaha juga telah mendatangi dan berkomunikasi dengan warga sekitar untuk membahas tuntutan yang sebelumnya disampaikan.
Bagi Watini, pembenahan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan usaha yang telah berjalan selama 25 tahun. Sebab, keberadaan tempat produksi tahu itu bukan hanya menyangkut keberlangsungan satu usaha.
Ada pekerja yang datang setiap hari untuk memasak tahu. Ada pedagang keliling yang membawa hasil produksi untuk dijual kembali. Dan ada keluarga yang menggantungkan kebutuhan hidup dari penghasilan yang diperoleh melalui rantai usaha tersebut.
Selama produksi tetap berjalan dan sistem pengelolaan limbah terus dibenahi, Watini berharap usaha yang dirintis dari skala rumahan sejak 2000 itu dapat terus bertahan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi warga yang selama ini ikut menggantungkan penghasilan di dalamnya. (ep)

