Enam Siswa dan Satu Guru di Songgon Banyuwangi Diduga Keracunan MBG

1soiibi.jpg Enam Siswa dan Satu Guru Sempat Dilarikan ke IGD Puskesmas Songgon untuk Mendapat Perawatan Medis (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI -  Sebanyak enam siswa dan seorang guru SDN 2 Sumberbulu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi, mengalami gejala yang diduga keracunan makanan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (8/10/2026). Ketujuh orang tersebut sempat dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Puskesmas Songgon untuk mendapatkan penanganan medis.


Kepala Puskesmas Songgon, Dadang Tripitoko, mengatakan gejala pertama kali dialami tiga siswa sekitar pukul 09.30 WIB. Mereka mengeluhkan sakit perut, mual, pusing, hingga muntah di lingkungan sekolah.


"Awalnya ada tiga siswa yang mengeluh sakit perut, mual, pusing, dan muntah di lokasi sekolah. Kemudian ditangani sesuai prosedur. Dari identifikasi anamnesis, diketahui mereka habis makan MBG," kata Dadang.


Sekitar 30 menit kemudian, tiga siswa lainnya dan seorang guru dilaporkan mengalami gejala serupa. Petugas kesehatan kemudian melakukan penanganan terhadap seluruh korban.


Menurut Dadang, kondisi ketujuh orang tersebut berangsur membaik setelah mendapatkan penanganan medis dan menjalani observasi di Puskesmas Songgon.


"Setelah menjalani proses observasi ketat selama dua jam, kondisi kesehatan tujuh korban menunjukkan perbaikan yang signifikan hingga akhirnya diizinkan rawat jalan," ujarnya.


Dadang menjelaskan, penanganan medis diberikan sesuai kondisi masing-masing korban. Obat juga diberikan untuk membantu meredakan keluhan yang dialami.


"Sempat diberikan obat pereda nyeri untuk membantu perbaikan kondisi," imbuhnya.


Meski kondisi korban telah membaik, penyebab munculnya gejala tersebut masih dalam penyelidikan. Puskesmas Songgon berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Banyuwangi untuk menindaklanjuti dugaan keracunan makanan tersebut.


Tim kesehatan juga mengambil sejumlah sampel makanan yang dikonsumsi para korban untuk diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Banyuwangi.


"Tim lain langsung melaporkan ke Dinas Kesehatan, kemudian mengambil sampel makanan untuk diperiksa di Labkesda Banyuwangi," jelas Dadang.


Sampel yang diamankan meliputi nasi putih, sate ayam beserta bumbunya, tahu goreng, acar timun, buah anggur, serta susu. Sampel tersebut mencakup sisa makanan yang dikonsumsi maupun kemasan susu yang masih baru.


Dadang menyebut hasil pemeriksaan laboratorium belum dapat diketahui dalam waktu singkat. Pemeriksaan kultur membutuhkan waktu beberapa hari untuk memastikan ada atau tidaknya kontaminasi yang berkaitan dengan dugaan keracunan tersebut.


"Hasilnya belum tahu, karena tidak bisa langsung. Biasanya pemeriksaan kultur menunggu 4-14 hari. Namun, rata-rata sekitar 7-14 hari menurut Labkesda," ungkapnya.


Sebagai langkah antisipasi, Puskesmas Songgon bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka) dan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meningkatkan pemantauan selama 1 x 24 jam.


Dadang mengatakan, tim penanganan dibagi ke dalam beberapa bagian, mulai dari tim medis untuk menangani korban, tim surveilans untuk memantau penerima manfaat, hingga tim kesehatan lingkungan yang bertugas mengambil sampel makanan.


Selain itu, tim edukasi juga disiapkan untuk memberikan informasi kepada penanggung jawab maupun penerima manfaat MBG mengenai langkah yang perlu dilakukan apabila muncul gejala serupa.


"Juga dibentuk tim crisis center. Ada tim medis untuk penyembuhan, surveilans untuk melakukan pemantauan, bagian kesehatan lingkungan untuk mengambil sampel, serta tim edukasi untuk memberikan edukasi kepada PIC atau penerima manfaat," paparnya.


Tim surveilans terus memantau kondisi penerima manfaat MBG di wilayah tersebut untuk mendeteksi kemungkinan munculnya kasus tambahan.


"Tim surveilans ini yang terus memantau seluruh penerima manfaat. Sejauh ini hanya tujuh orang tadi yang mengalami gejala dugaan keracunan MBG," tegas Dadang.


Peristiwa ini menjadi perhatian karena SPPG Banyuwangi Songgon Bayu melayani sekitar 3.581 penerima manfaat yang tersebar di sejumlah sekolah di wilayah Kecamatan Songgon.


Meski demikian, dugaan keracunan tersebut belum dapat dipastikan berasal dari makanan MBG yang dikonsumsi para korban. Kepastian penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang telah diamankan petugas. (ep)