Banjir Terjang Rogojampi dan Srono Banyuwangi, 52 Rumah Terdampak hingga Jalan Amblas

1bjkank.jpg Banjir di Permukiman Lingkungan Candian, Rogojampi, Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Hujan deras yang mengguyur wilayah Banyuwangi sejak Minggu malam hingga Senin (22/06/2026) dini hari memicu banjir di sejumlah kawasan. Selain merendam puluhan rumah di Kecamatan Rogojampi, luapan air juga menyebabkan jalan amblas dan plengsengan ambrol di Kecamatan Srono.


Banjir terparah terjadi di Lingkungan Candian, Kecamatan Rogojampi. Air sungai yang meluap masuk ke kawasan permukiman padat penduduk dengan ketinggian mencapai sekitar sepaha orang dewasa.


Warga sempat berupaya menyelamatkan barang-barang berharga dan peralatan rumah tangga saat debit air terus meningkat. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, puluhan rumah warga terdampak genangan.


Camat Rogojampi Satrio mengatakan, banjir dipicu tingginya intensitas hujan yang menyebabkan sungai tidak mampu menampung debit air.


"Data sementara terdapat sekitar 52 rumah warga yang terdampak banjir di wilayah Rogojampi. Alhamdulillah tidak ada korban jiwa maupun kerusakan berat akibat kejadian ini," kata Satrio.


Menurutnya, genangan mulai surut pada Senin pagi sehingga warga bersama petugas langsung melakukan pembersihan lingkungan.


"Sejak air surut, tim gabungan bersama warga langsung melakukan kerja bakti membersihkan sisa lumpur dan material yang terbawa arus banjir. Saat ini kondisi sudah berangsur normal," ujarnya.


Sementara itu, banjir juga melanda Dusun Paiton dan Dusun Rayud, Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono. Luapan air menggenangi sejumlah rumah warga dan menyeret beberapa peralatan rumah tangga.


Agen Informasi Bencana BPBD Jawa Timur, Ismanto menyebut, dampak paling serius terjadi di Dusun Rayud, di mana derasnya aliran air menyebabkan kerusakan infrastruktur.


"Selain banjir, di Dusun Rayud terjadi jalan amblas dan plengsengan ambrol akibat tergerus arus air yang cukup deras," ujar Ismanto.


Ia menjelaskan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun warga diminta tetap waspada mengingat kondisi cuaca masih berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi.


Menurut Ismanto, sejumlah faktor menjadi penyebab banjir di kawasan tersebut. Mulai dari minimnya sistem drainase, ukuran gorong-gorong yang terlalu sempit, hingga kondisi aliran sungai yang mengalami pendangkalan.


"Drainase yang terbatas, gorong-gorong yang tidak mampu menampung debit air, serta kondisi sungai yang dangkal membuat air meluap ke permukiman saat hujan deras terjadi," jelasnya.


Saat ini petugas bersama pemerintah desa dan warga masih melakukan pendataan dampak kerusakan serta membersihkan material yang terbawa banjir. Pemerintah daerah juga akan melakukan evaluasi terhadap sistem drainase dan aliran sungai guna mengurangi risiko banjir saat musim hujan tiba.


Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa ini kembali menjadi pengingat perlunya penanganan menyeluruh terhadap persoalan drainase dan sungai di sejumlah wilayah rawan banjir di Banyuwangi. (ep)