Banjir TPU Tegalsari Bikin 6 Makam Ambles, Warga Kenang Air Bah 1980-an yang Hanyutkan Jenazah

1maknaoi.jpg TPU Desa Tegalsari, Banyuwangi Dekat dengan Sungai Panduman (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Banjir yang merendam Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Tegalsari, Kecamatan Tegalsari, Banyuwangi, Selasa (17/02/2026) kemarin, ternyata bukan kali pertama terjadi. Warga setempat mengenang peristiwa serupa pada medio 1980-an yang disebut jauh lebih parah hingga menghanyutkan jenazah.


Seperti diberitakan sebelumnya, banjir akibat luapan Sungai Panduman membuat air menggenang setinggi batu nisan dan merendam sebagian makam. Enam makam dilaporkan ambles karena tergerus air. Genangan baru surut pada Rabu (18/2/2026) pagi dan langsung dibersihkan warga bersama perangkat desa, bhabinkamtibmas, dan babinsa.


Nur Kholis (55), warga Dusun Krajan 1, menuturkan banjir kali ini mengingatkannya pada peristiwa besar puluhan tahun silam. Saat itu, ia masih remaja dan menyaksikan langsung derasnya air bah menerjang kompleks pemakaman.


“Dulu sekitar tahun 1980-an, banjirnya jauh lebih besar. Bukan hanya merusak makam, tapi sampai ada jenazah yang hanyut terbawa arus,” kata Nur, Rabu (18/2/2026).


Menurutnya, derasnya luapan sungai saat itu membuat tanah makam terkikis hebat. Sejumlah pusara rusak parah dan beberapa jenazah keluar dari liang kubur lalu terbawa banjir. Peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam bagi warga.


Belajar dari kejadian itu, warga kemudian berinisiatif melakukan iuran untuk membangun tanggul penahan banjir atau plengsengan di sepanjang sisi makam yang berbatasan langsung dengan bibir Sungai Panduman.


“Setelah kejadian besar itu, warga sepakat iuran membangun tanggul. Alhamdulillah sampai sekarang tanggul itu masih kuat,” ujarnya.


Nur menyebut, plengsengan tersebut terbukti ampuh menahan terjangan banjir yang kembali melanda pada Selasa (17/02/2026) kemarin. Meski air sempat menggenangi area makam dan menyebabkan enam pusara ambles, tidak ada jenazah maupun nisan yang hanyut seperti kejadian puluhan tahun lalu.


“Kalau tidak ada tanggul itu, mungkin kondisinya bisa lebih parah. Sekarang hanya ambles di beberapa titik, tapi tidak sampai ada jenazah terbawa,” jelasnya.


Warga berharap pemerintah desa maupun instansi terkait dapat melakukan penguatan tambahan pada tanggul yang ada, mengingat intensitas hujan belakangan ini cukup tinggi dan dikhawatirkan memicu luapan sungai kembali. (ep)