Proses Pembuatan Camilan Keripik Pisang dan Singkong di Desa Genteng Wetan (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi – Di sebuah sudut Dusun Resomulyo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi aroma singkong dan pisang yang digoreng perlahan menjadi saksi perjalanan panjang usaha camilan rumahan milik Aris Lailiana. Usaha kecil yang ia rintis sejak 2008 ini tak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang hingga menembus pasar Bali sejak 2012.
Berawal dari produksi sederhana, Aris kini mampu mengirimkan camilan keripik olahan hingga satu ton dalam sekali pengiriman ke Pulau Dewata. Capaian itu bukan datang secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh kesabaran dan konsistensi.
“Kalau produksi per hari, bahan mentahnya bisa satu sampai dua ton. Hasil jadinya sekitar tiga sampai lima kuintal,” ujar Aris, sambil memantau aktivitas para pekerjanya.
Produk yang dihasilkan beragam, mulai dari keripik singkong, keripik pisang, sale pisang, hingga keripik ubi ungu. Harga jualnya pun relatif terjangkau, berkisar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, sehingga tetap diminati pasar.
Namun, perjalanan usaha ini tak selalu mulus. Setiap awal tahun, Aris kerap menghadapi keterlambatan pasokan singkong karena masa panen belum tiba. Kondisi ini sudah menjadi siklus tahunan yang harus disiasati.

“Biasanya di bulan Januari bahan baku agak sulit, karena panen baru mulai bulan dua atau tiga,” tuturnya.
Tantangan lain datang dari harga minyak goreng yang hampir selalu naik menjelang bulan puasa dan hari raya. Kenaikannya berkisar antara Rp1.000 hingga Rp1.500 per liter. Meski demikian, Aris memilih menyikapinya dengan hati-hati agar tidak memberatkan konsumen.
“Kami naikkan harga grosir sedikit, tapi masih wajar. Alhamdulillah, konsumen bisa memahami,” katanya.
Tak hanya soal produksi dan pemasaran, usaha camilan ini juga memberi manfaat langsung bagi warga sekitar. Sebanyak 15 pekerja, yang mayoritas ibu-ibu rumah tangga, terlibat dalam proses produksi setiap hari.
“Mereka ibu-ibu tetangga. Setelah urusan rumah selesai, datang ke sini untuk bekerja,” ucap Aris dengan senyum.
Para pekerja dibagi ke beberapa bagian, mulai dari mengupas bahan, membersihkan, menggoreng hingga pengemasan. Sistem upah dilakukan secara borongan, menyesuaikan jenis pekerjaan. Pengupasan singkong dihargai Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per kuintal, pisang Rp300 per sisir, sementara bagian penggorengan dibayar Rp5.000 per jam dengan waktu kerja yang bisa mencapai 10 jam sehari.
Bagi Aris, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan. Lebih dari itu, ia ingin tetap membuka ruang kerja bagi warga sekitar, sekaligus menjaga kualitas produk agar kepercayaan pasar tetap terjaga.
Di tengah fluktuasi harga bahan baku dan dinamika pasar, camilan rumahan ini terus berproses. Dengan ketekunan dan dukungan lingkungan sekitar, Aris berharap usahanya tetap bertahan dan terus mengharumkan nama Banyuwangi di luar daerah, termasuk di Pulau Bali. (ep)

