HMI Banyuwangi Gelar Diskusi Bersama Tiyo Ardianto (Foto: Miswan/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Diskusi interaktif bertajuk "Meneropong Arah Gerak Pemuda dalam Pembangunan Bangsa di Tengah Carut Marut Rezim Demokrasi" yang digelar Himpunan Mahasiswa Islam (MHI) Banyuwangi berlangsung gayeng di Cafe Semilir, Senin (8/6/2026) sore. Kegiatan tersebut menghadirkan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, sebagai pemantik diskusi.
Dalam paparannya, Tiyo Ardianto menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam berbagai ruang politik dengan tetap mengedepankan moralitas dan integritas. Menurutnya, kedua hal tersebut menjadi modal penting dalam memperbaiki sistem demokrasi.
"Pemuda, aktivis tidak boleh alergi dengan politik, sebab demokrasi hari ini menuntut kita untuk tidak buta terhadap politik sebab hal itu sebagai bagian menuju masyarakat berkeadilan," ujar Tiyo.
Ia menyampaikan bahwa partisipasi politik tidak hanya dimaknai sebagai keterlibatan dalam kontestasi kekuasaan, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap proses pengambilan kebijakan yang berdampak pada masyarakat luas.
Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Banyuwangi, Ilham Layli Mursidi, mengatakan kehadiran Tiyo Ardianto menjadi momentum penting untuk membangkitkan semangat perjuangan pemuda di tengah berbagai dinamika demokrasi saat ini.
Menurut Ilham, pemuda memiliki peran sebagai kekuatan kontrol sosial yang mengawasi jalannya pemerintahan dan pembangunan. Namun, ia menilai kehidupan demokrasi di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan.
"Praktik politik yang semakin pragmatis, menguatnya oligarki kekuasaan, menurunnya kualitas partisipasi publik, serta berbagai kebijakan yang dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada kepentingan rakyat menjadi fenomena yang tidak dapat diabaikan," ujar Ilham.
Ia menambahkan, kondisi tersebut menimbulkan perhatian terhadap kualitas demokrasi dan arah pembangunan bangsa ke depan. Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi dan arus globalisasi juga menghadirkan tantangan baru bagi generasi muda.
Menurutnya, kemudahan akses informasi tidak selalu diikuti dengan meningkatnya kesadaran kritis. Sebagian pemuda dinilai masih bersikap apatis terhadap persoalan sosial dan politik, sementara sebagian lainnya mudah terpengaruh informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, forum diskusi seperti ini dinilai penting sebagai ruang dialektika yang mempertemukan berbagai gagasan kritis mengenai kondisi demokrasi Indonesia sekaligus membahas langkah-langkah strategis pemuda dalam mengawal pembangunan bangsa.
Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh para pemegang kebijakan, tetapi juga oleh partisipasi generasi muda dalam proses pembangunan nasional melalui sikap kritis, independen, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan demokrasi. (rq)

