GMNI Banyuwangi Tegaskan Identitas Alumni Tidak Boleh Dijadikan Alat Legitimasi Politik

13jiladdd.jpg Ketua DPC GMNI Banyuwangi yang juga Ketua Bidang Perekonomian DPP GMNI, Rino Bakhtiar (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Banyuwangi yang juga Ketua Bidang Perekonomian DPP GMNI, Rino Bakhtiar, memberikan pernyataan resmi terkait beredarnya informasi mengenai adanya pihak yang menghembuskan isu sebagai alumni GMNI untuk kepentingan legitimasi politik praktis.


Pernyataan ini disampaikan menyusul munculnya narasi seorang figur politik berinisial FS salah satu petinggi partai politik di tingkat kabupaten yang disebut-sebut sebagai alumni GMNI. 


"Kami perlu menegaskan secara kelembagaan bahwa GMNI adalah organisasi kader yang independen, tidak berada di bawah kendali partai politik mana pun. GMNI tidak boleh digunakan untuk menjadi alat legitimasi politik praktis," ujar Rino, Jumat (13/02/2026).


Menurut Rino, berdasarkan penelusuran data keanggotaan dan riwayat kaderisasi di lingkungan DPC GMNI Banyuwangi, nama yang bersangkutan tidak pernah tercatat sebagai kader GMNI.


"Organisasi kami memiliki mekanisme kaderisasi yang jelas dan terstruktur. Alumni GMNI adalah mereka yang pernah mengikuti proses kaderisasi formal dan tercatat secara administratif. Hingga saat ini tidak ada catatan bahwa beliau pernah menjadi bagian dari proses tersebut," tegasnya.


GMNI Banyuwangi menilai klaim sepihak semacam ini berpotensi mencederai nama baik organisasi dan menimbulkan persepsi keliru di tengah masyarakat. Rino menambahkan, GMNI menghormati hak setiap warga negara untuk berkiprah di dunia politik. Namun penggunaan identitas organisasi tanpa dasar yang jelas dinilai sebagai tindakan yang tidak etis.


"Kami sangat menghormati pilihan politik siapa pun. Tetapi membawa-bawa nama GMNI tanpa rekam jejak keanggotaan yang sah adalah bentuk penyalahgunaan identitas organisasi. Hal ini perlu diluruskan demi menjawa marwah dan integritas GMNI sebagai organisasi perjuangan mahasiswa," katanya.


Terkait polemik ini, Rino juga menjelaskan bahwa secara kelembagaan, pernyataan resmi mengenai status alumni semestinya disampaikan oleh Persatuan Alumni (PA GMNI) Banyuwangi sebagai wadah resmi alumni.


“Kami menghormati keberadaan PA GMNI Banyuwangi sebagai rumah bersama para alumni. Namun perlu ditegaskan bahwa klaim sebagai alumni GMNI harus didasarkan pada rekam jejak kaderisasi yang nyata. Siapa pun yang tidak pernah berproses di GMNI tidak berhak mengatasnamakan diri sebagai alumni tanpa dasar yang jelas.” Ungkap Rino.


Rino menegaskan bahwa GMNI akan fokus pada peran utamanya sebagai organisasi kader ideologis yang berpihak kepada kepentingan rakyat. “Kami mengajak semua pihak untuk berpolitik secara sehat, jujur, dan bermartabat, tanpa menyeret-nyeret nama GMNI untuk kepentingan di luar tujuan organisasi,” tutup Rino. (*)