BYD M6 Dual Mode (DM), Magnet Baru MPV Keluarga yang Super Irit dan Tangguh (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Fenomena antrean kendaraan yang mengular di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu gambaran perubahan dinamika konsumsi energi masyarakat. Di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi, sebagian masyarakat kembali mempertimbangkan penggunaan BBM bersubsidi, sekaligus mulai mencari alternatif mobilitas yang menawarkan efisiensi biaya dalam penggunaan sehari-hari.
Perubahan kondisi tersebut turut mendorong masyarakat untuk semakin terbuka terhadap pilihan kendaraan dengan sumber energi alternatif, termasuk kendaraan listrik dan kendaraan dengan teknologi elektrifikasi.
Muhammad Shobirin, Marketing, Aftersales, & CX General Manager Haka Auto, mengatakan bahwa dinamika harga energi secara tidak langsung membuat masyarakat semakin memperhatikan total biaya yang dikeluarkan untuk mobilitas sehari-hari.
“Ketika masyarakat dihadapkan pada dinamika harga energi dan biaya mobilitas yang terus menjadi perhatian, cara mereka memandang kendaraan juga ikut berkembang. Kendaraan tidak lagi hanya dinilai dari harga pembelian atau performanya, tetapi semakin dilihat dari seberapa efisien kendaraan tersebut digunakan dalam jangka panjang. Kami melihat perubahan ini mulai tercermin dari meningkatnya ketertarikan konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi di sejumlah wilayah operasional Haka Auto,” ujar Shobirin.
Perubahan tersebut tidak hanya mencerminkan respons konsumen terhadap kondisi harga energi, tetapi juga menunjukkan bahwa pertimbangan terhadap efisiensi, biaya operasional, teknologi, serta keberlanjutan semakin menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan sebelum membeli kendaraan.
Meningkatnya minat terhadap kendaraan elektrifikasi juga berjalan beriringan dengan semakin luasnya pemahaman masyarakat terhadap pilihan teknologi yang tersedia. Konsumen kini memiliki lebih banyak pertimbangan, mulai dari kendaraan listrik murni hingga teknologi dual-mode yang menawarkan pendekatan berbeda terhadap kebutuhan mobilitas.
Di sejumlah wilayah dealer BYD Haka, perkembangan tersebut mulai terlihat melalui meningkatnya minat konsumen terhadap berbagai produk elektrifikasi, termasuk BYD Atto 1, BYD M6 DM, BYD M6 EV, serta kendaraan premium Denza D9.
Shobirin menambahkan, momentum tersebut turut diperkuat oleh perkembangan industri kendaraan listrik nasional, khususnya setelah pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, resmi diresmikan pada 3 September 2026.
“Peresmian fasilitas produksi BYD di Subang memberikan dimensi baru terhadap perjalanan elektrifikasi di Indonesia. Bagi konsumen, kehadiran fasilitas produksi kendaraan BYD di dalam negeri dapat menjadi bagian dari pertimbangan dalam melihat kesiapan ekosistem dan keberlanjutan produk yang mereka pilih. Pada saat yang sama, kami melihat kepercayaan terhadap produk-produk BYD yang diproduksi di Indonesia berkembang seiring dengan semakin dekatnya teknologi elektrifikasi dengan kebutuhan mobilitas masyarakat,” jelasnya.
Hal itu tercermin dari perkembangan permintaan di sejumlah branch Haka Auto di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Jawa Tengah: Efisiensi dan Kebutuhan Mobilitas Antarkota Menjadi Pertimbangan
Jawa Tengah memiliki karakter mobilitas yang cukup beragam. Selain aktivitas perkotaan, masyarakat di wilayah ini memiliki kebutuhan perjalanan antarkota yang relatif tinggi, baik untuk aktivitas pekerjaan, keluarga, bisnis, maupun kegiatan ekonomi lainnya.
Kondisi tersebut membuat efisiensi penggunaan kendaraan menjadi salah satu pertimbangan yang semakin mendapat perhatian konsumen.
Fram Ishardono, Branch Manager BYD Haka Semarang, melihat adanya perkembangan minat masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi seiring dengan semakin luasnya informasi mengenai teknologi dan manfaat penggunaannya.
“Konsumen di Semarang dan sekitarnya semakin terbuka terhadap kendaraan elektrifikasi. Pertimbangannya tidak semata-mata karena tren, tetapi mulai masuk ke aspek yang sangat praktis: bagaimana kendaraan digunakan setiap hari, seberapa efisien biaya mobilitasnya, serta apakah teknologi tersebut sesuai dengan kebutuhan perjalanan mereka,” ujar Fram.
Keberadaan kendaraan dengan pilihan teknologi elektrifikasi yang semakin beragam memberikan ruang bagi konsumen untuk memilih kendaraan sesuai pola mobilitas masing-masing.
Khususnya bagi masyarakat yang memiliki intensitas perjalanan tinggi, faktor efisiensi menjadi semakin relevan karena biaya penggunaan kendaraan merupakan bagian dari pengeluaran rutin.
BYD Haka Semarang, yang berlokasi di Jl. Kompol Maksum No. 260, Kota Semarang - Jawa Tengah, melihat konsumen mulai datang dengan pertanyaan yang semakin spesifik mengenai efisiensi, teknologi, fitur, serta biaya penggunaan kendaraan dalam jangka panjang.
“Kami melihat konsumen sekarang datang dengan perspektif yang lebih matang. Mereka ingin mengetahui bukan hanya fitur kendaraan, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut bekerja dan relevansinya terhadap kebutuhan mobilitas sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa edukasi menjadi bagian penting dalam proses adopsi kendaraan elektrifikasi,” tambah Fram.
Perkembangan tersebut juga memperlihatkan bahwa adopsi kendaraan elektrifikasi semakin bergerak keluar dari pusat-pusat metropolitan. Kota-kota di Jawa Tengah memiliki karakteristik mobilitas yang memungkinkan teknologi tersebut menjadi bagian dari pilihan transportasi masyarakat sehari-hari.
Jawa Timur: Kota Tier 2 Mulai Menunjukkan Perubahan Preferensi Mobilitas
Fenomena serupa juga terlihat di Jawa Timur, termasuk di wilayah Madiun yang merupakan salah satu kota Tier 2 dengan karakter mobilitas yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas dalam kota, tetapi juga terhubung dengan berbagai wilayah di sekitarnya.
Di tengah dinamika biaya energi, masyarakat mulai memperhatikan alternatif kendaraan yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas sekaligus menawarkan efisiensi penggunaan.
Joko Pono Widagdo, Branch Manager BYD Haka Madiun, mengatakan bahwa perkembangan minat konsumen terhadap kendaraan elektrifikasi di Madiun menunjukkan bahwa transformasi mobilitas mulai menjangkau kota-kota di luar pusat metropolitan.
“Madiun memiliki karakter mobilitas yang sangat dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Banyak konsumen menggunakan kendaraan bukan hanya untuk aktivitas di dalam kota, tetapi juga untuk perjalanan antarkota dan mendukung aktivitas keluarga maupun usaha. Karena itu, ketika masyarakat mulai menghitung kembali biaya mobilitas, pembicaraan mengenai efisiensi kendaraan menjadi semakin relevan,” ujar Joko.
Menurutnya, konsumen di Madiun kini semakin terbuka untuk mengenal teknologi kendaraan elektrifikasi secara langsung. Pengalaman berkendara dan pemahaman terhadap teknologi menjadi faktor penting karena sebagian konsumen masih berada pada tahap eksplorasi sebelum menentukan pilihan.
“Yang menarik, konsumen di Madiun tidak lagi melihat kendaraan listrik sebagai sesuatu yang hanya relevan untuk masyarakat di kota-kota besar. Mereka mulai melihatnya sebagai salah satu pilihan kendaraan untuk kebutuhan sehari-hari. Tantangannya adalah bagaimana memberikan pengalaman dan informasi yang cukup agar konsumen dapat menentukan teknologi yang paling sesuai dengan pola mobilitas mereka,” jelas Joko.
BYD Haka Madiun, yang berlokasi di Jl. Mayjen Sungkono No. 141, Kota Madiun - Jawa Timur menjadi salah satu titik layanan yang mendekatkan ekosistem kendaraan elektrifikasi kepada masyarakat di wilayah Madiun dan sekitarnya.
Elektrifikasi dan Evolusi Cara Masyarakat Memilih Kendaraan
Perubahan harga energi pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang membuat masyarakat kembali mengevaluasi kebutuhan mobilitas mereka. Namun, keputusan untuk beralih ke kendaraan elektrifikasi tidak hanya ditentukan oleh harga BBM.
Ketersediaan produk, teknologi, infrastruktur pendukung, layanan purnajual, kemudahan memperoleh informasi, hingga kepercayaan terhadap merek menjadi bagian dari ekosistem yang menentukan proses adopsi.
Haka Auto melihat perkembangan tersebut sebagai bagian dari evolusi preferensi konsumen Indonesia yang semakin mempertimbangkan efisiensi, teknologi, kenyamanan, serta keberlanjutan secara bersamaan.
“Kami melihat perubahan perilaku konsumen ini sebagai sebuah proses yang lebih besar dari sekadar respons terhadap perubahan harga BBM. Masyarakat sedang membangun cara baru dalam melihat kebutuhan mobilitas. Tugas kami adalah memastikan mereka mendapatkan pilihan produk, pengalaman, dan layanan yang dapat menjawab kebutuhan tersebut secara relevan,” tutup Shobirin. (*Adv)

