ASN Terlihat Berpakaian Muslim di Kantor Kecamatan Genteng dalam Memperingati Hari Santri Nasional (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Penampilan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tampak berbeda selama peringatan Hari Santri Nasional 2026. Para pegawai laki-laki mengenakan sarung dan peci, sedangkan ASN perempuan memakai gamis muslimah saat menjalankan aktivitas pemerintahan mulai Senin (19/10/2026) hingga Jumat (23/10/2026).
Penyesuaian pakaian dinas tersebut tertuang dalam surat Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi tertanggal 16 Oktober 2026. Kebijakan itu diterapkan selama lima hari untuk menyemarakkan peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap 22 Oktober, tak terkecuali di Kantor Camat Genteng.
Camat Genteng, Khoirul Hidayat, mengatakan penggunaan pakaian muslim tersebut merupakan bentuk partisipasi ASN dalam menyemarakkan Hari Santri Nasional. Menurutnya, momentum ini menjadi kesempatan untuk mengenang perjuangan para santri dan ulama dalam perjalanan bangsa Indonesia.
“Ini salah satu bentuk partisipasi kami dalam menyemarakkan Hari Santri Nasional. Kami ingin suasana Hari Santri juga terasa di lingkungan pemerintahan, termasuk ketika ASN menjalankan tugas dan memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Khoirul.
Ia menjelaskan, peringatan Hari Santri tidak hanya sebatas mengenakan sarung, peci, atau gamis. Lebih dari itu, momentum tersebut diharapkan dapat mengingatkan masyarakat tentang nilai-nilai perjuangan, kedisiplinan, keikhlasan, dan pengabdian yang selama ini melekat dalam kehidupan santri.
“Jangan sampai kita hanya melihat dari pakaiannya. Ada nilai yang ingin kita hidupkan melalui peringatan Hari Santri, seperti kedisiplinan, kesederhanaan, semangat belajar, dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Khoirul menambahkan, penggunaan pakaian muslim saat bertugas juga menjadi cara untuk menghadirkan suasana peringatan Hari Santri di tengah aktivitas sehari-hari. Meski berpenampilan berbeda dari biasanya, ASN tetap dituntut menjalankan kewajiban dan memberikan pelayanan secara profesional.
“Yang paling penting, pelayanan kepada masyarakat harus tetap berjalan dengan baik. Pakaian boleh menyesuaikan momentum peringatan Hari Santri, tetapi tanggung jawab sebagai ASN tidak boleh berkurang,” tegasnya.
Menurut Khoirul, semangat Hari Santri juga perlu diwujudkan melalui sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai positif yang diajarkan di lingkungan pesantren, seperti menghormati sesama, menjaga kerukunan, serta bekerja dengan ikhlas, dinilai relevan untuk diterapkan dalam pelayanan publik.
“Kami berharap semangat Hari Santri ini tidak berhenti setelah peringatannya selesai. Nilai-nilai kebaikan yang ada di lingkungan pesantren bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, termasuk dalam menjalankan tugas pemerintahan,” imbuhnya.
Perubahan penampilan ASN tersebut turut menarik perhatian warga. Aini, salah seorang warga, mengaku sempat terkejut ketika melihat pegawai pemerintah mengenakan pakaian muslim saat bekerja.
“Awalnya saya kaget melihat ASN memakai sarung dan baju muslim saat bekerja. Setelah tahu ternyata dalam rangka memperingati Hari Santri, baru saya paham,” ujar Aini.
Hal senada disampaikan Baher Kusumo Dewo. Ia mengaku baru mengetahui bahwa pakaian yang dikenakan ASN tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Santri Nasional.
“Saya sempat bertanya-tanya karena penampilannya berbeda dari biasanya. Ternyata ASN juga ikut memeriahkan Hari Santri dengan mengenakan pakaian muslim,” kata Baher.
Dalam surat Sekretariat Daerah Banyuwangi, ASN laki-laki diwajibkan mengenakan atasan baju muslim, songkok nasional, dan sarung dengan warna bebas, serta tetap memakai kartu tanda pengenal pegawai. Sementara itu, ASN perempuan mengenakan gamis muslimah dan kerudung yang disesuaikan.
Adapun ASN nonmuslim menyesuaikan pakaian yang dikenakan. Ketentuan tersebut berlaku selama lima hari, yakni 19-23 Oktober 2026.
Melalui kebijakan ini, peringatan Hari Santri diharapkan tidak hanya berlangsung dalam kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum memperkuat semangat pengabdian, kebersamaan, dan pelayanan kepada masyarakat. (ep)

