Dam Singir Blambangan, Warisan Kolonial Belanda yang Menopang Pertanian Banyuwangi

1uhi.jpg Dam Singir di Desa Blambangan, Kec. Muncar, Banyuwangi saat Pengeringan Tahunan pada 18 Oktober 2026 (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Bendungan peninggalan kolonial Belanda masih menjadi bagian penting dari sistem pengairan pertanian di Banyuwangi. Salah satunya Dam Blambangan atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Dam Singir, di Dusun Mangunrejo, Desa Blambangan, Kecamatan Muncar.


Bendungan yang dibangun pada 1925 itu hingga kini masih dimanfaatkan untuk mengalirkan air ke lahan pertanian di wilayah Banyuwangi selatan. Meski telah berdiri hampir satu abad, keberadaannya tetap memiliki peran strategis dalam mendukung aktivitas pertanian masyarakat.


Dam Singir mengairi lahan persawahan seluas kurang lebih 1.457 hektare yang tersebar di sembilan desa di Kecamatan Muncar dan Srono. Cakupan layanan tersebut menjadikan bendungan ini sebagai salah satu infrastruktur pengairan penting bagi petani setempat.


Agar fungsinya tetap terjaga, petugas Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Srono secara rutin melakukan pemeliharaan, termasuk pengeringan bendungan setahun sekali.


Pada Minggu (18/10/2026), petugas kembali melakukan pengeringan untuk mempermudah pemeriksaan dan perbaikan konstruksi bendungan serta saluran irigasi. Kegiatan ini sekaligus menjadi persiapan menghadapi musim penghujan.


Petugas Pengelola Bendungan Irigasi Blambangan dari Dinas PU Pengairan Provinsi Jawa Timur, Dedy Junianto, menjelaskan pemeliharaan rutin diperlukan untuk menjaga kelancaran aliran air. Salah satu pekerjaan yang dilakukan adalah membersihkan endapan lumpur atau waled yang menumpuk di dasar bendungan.


“Pengeringan ini juga untuk mempersiapkan kedatangan musim hujan. Sehingga, ketika debit air tinggi, sedimentasi atau waled sudah digelontorkan,” kata Dedy.


Menurutnya, pembersihan sedimentasi menjadi bagian penting agar aliran air dapat berfungsi secara optimal ketika debit meningkat. Dengan begitu, saluran irigasi diharapkan mampu mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian secara lebih baik.


Namun, pasokan air di Dam Singir saat ini masih terbatas akibat musim kemarau. Dedik menyebut debit air yang biasanya mencapai sekitar 1.600 liter per detik kini turun menjadi kurang lebih 115 liter per detik.


Penurunan tersebut membuat petugas harus menerapkan sistem penggiliran distribusi air untuk memenuhi kebutuhan irigasi petani. Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya air, terutama ketika pasokan mulai berkurang.


Proses pengeringan dan pemeliharaan bendungan dijadwalkan berlangsung selama satu pekan. Petugas memanfaatkan periode tersebut untuk melakukan perawatan agar infrastruktur pengairan tetap berfungsi dengan baik.


Di sisi lain, Dam Singir juga memiliki keterkaitan erat dengan kehidupan sosial masyarakat sekitar. Setiap kali bendungan dikeringkan, warga dari berbagai wilayah di Banyuwangi selatan biasanya datang untuk berburu ikan di aliran sungai yang mulai surut.


Petugas Pintu Air (PPA) Dam Blambangan, Puas Rohani, mengatakan kegiatan tersebut telah menjadi kebiasaan tahunan masyarakat setiap kali pengeringan bendungan dilaksanakan.


“Setiap jadwal pengeringan bendungan tiba, warga biasanya berkumpul untuk mencari ikan. Mereka datang dari berbagai daerah di Banyuwangi,” ujar Puas.


Warga biasanya membawa peralatan sederhana, seperti jala dan jaring, untuk menangkap ikan yang terjebak di genangan air. Tradisi tersebut menjadi salah satu aktivitas yang dinantikan masyarakat ketika proses pengeringan berlangsung.


Meski begitu, hasil tangkapan tahun ini diperkirakan lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Perbedaan kondisi cuaca diduga memengaruhi jumlah ikan yang ditemukan warga.


Keberadaan Dam Singir memperlihatkan bagaimana infrastruktur peninggalan masa kolonial masih memiliki manfaat bagi masyarakat hingga sekarang. Tidak hanya menyimpan nilai sejarah, bendungan tersebut juga tetap menjalankan fungsi penting dalam menopang pengairan pertanian Banyuwangi.


Dengan pemeliharaan yang dilakukan secara berkala, Dam Singir diharapkan terus mendukung kebutuhan air bagi lahan persawahan sekaligus menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian di wilayah Muncar dan Srono. (ep)