Peningkatan Kapasitas Kewirausahaan dan Penjualan Produk Udang di Banyuwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Program Studi Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga bersama Yayasan Sinergi Akuakultur Indonesia (YSAI) menggelar program pemberdayaan bagi anggota Koperasi Mina Bangkit Bersama dan masyarakat tambak di Banyuwangi.
Program bertajuk Pemberdayaan Anggota Koperasi Mina Bangkit Bersama dan Masyarakat Tambak Serikat Nelayan NU Banyuwangi melalui Pengolahan serta Peningkatan Kapasitas Kewirausahaan Produk Olahan Udang ini bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah udang menjadi produk bernilai tambah.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama berupa pelatihan pengolahan produk olahan udang yang digelar pada 7 Juni 2026 di East Village Shabu Shabu & Grill. Sebanyak 15 peserta mengikuti praktik pengolahan berbagai produk berbahan dasar udang vaname seperti Shrimp Ring Cheese, Ebi Furai, Spring Roll Udang, dan Tempura Udang bersama Chef Irwan Murwiyanto.

Selanjutnya, tahap kedua berupa pelatihan peningkatan kapasitas kewirausahaan dan penjualan produk udang yang dilaksanakan pada 14 Juni 2026 di Resto Kalimaya. Peserta mendapatkan materi strategi pemasaran, penentuan harga jual, branding, penjualan online, copywriting, hingga penyusunan rencana usaha.
Ketua Tim Pengabdian Arif Habib Fasya, S.Pi., M.P. mengatakan program tersebut dilakukan untuk menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat pengusaha udang, terutama terkait fluktuasi harga dan rendahnya nilai tambah produk.
"Fluktuasi harga udang menjadi tantangan bagi masyarakat pengusaha olahan udang. Diversifikasi produk merupakan salah satu solusi meningkatkan nilai ekonomi komoditas udang," ujar Arif, Kamis (25/06/2026).
Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya dibekali kemampuan produksi, tetapi juga perlu diperkuat dari sisi pemasaran agar produk yang dihasilkan mampu memberikan manfaat ekonomi.
"Setelah masyarakat mampu mengolah produk, tahap berikutnya adalah memperkuat kemampuan pemasaran agar produk benar-benar memberikan manfaat ekonomi," jelasnya.

Melalui pelatihan tersebut, peserta mendapatkan kemampuan mulai dari teknik pengolahan udang, keamanan penggunaan alat, teknik coating, penggorengan, pengemasan, hingga strategi penjualan dan pengembangan usaha.
Arif menambahkan, perguruan tinggi memiliki peran dalam mendampingi masyarakat agar mampu mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
"Perguruan tinggi tidak hanya memberikan pelatihan produksi, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam pengembangan usaha," katanya.
Program ini diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk olahan udang lokal, memperluas pemasaran melalui kanal offline maupun digital, serta meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir Banyuwangi.
"Harapannya, masyarakat mampu memproduksi sekaligus memasarkan produk olahan udang secara lebih luas sehingga meningkatkan serapan udang di pasar domestik dan mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir," pungkasnya. (*)

