Nelayan di Muncar Memindahkan Hasil Tangkapan Ubur-ubur dari Perahu (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Kawanan ubur-ubur yang memadati perairan Tanjung Sembulungan, Banyuwangi, membawa berkah bagi sebagian nelayan di Kecamatan Muncar. Saat musimnya tiba, nelayan setempat beralih memburu hewan laut yang mereka juluki uwur-uwur.
Oktober disebut menjadi puncak kemunculan ubur-ubur di kawasan tersebut. Aktivitas penangkapan mulai terlihat di Pelabuhan Muncar. Pada Rabu (28/10/2026) siang, sedikitnya empat hingga lima kapal nelayan berukuran sedang yang bersandar tampak membawa hasil tangkapan ubur-ubur di bagian bagan kapalnya.
Andi, salah seorang nelayan setempat, mengatakan kemunculan ubur-ubur menjadi peluang bagi nelayan untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Menurutnya, selama musim berlangsung, hewan laut itu relatif mudah ditemukan di perairan sekitar Tanjung Sembulungan.
“Kalau musim, mencari uwur-uwur Acukup mudah. Biasanya kami mulai mencari malam hari,” ujar Andi saat ditemui, Rabu (28/10/2026).
Penangkapan dilakukan secara tradisional, dengan nelayan berangkat pada malam hari untuk mencari kawanan ubur-ubur. Hasilnya cukup menjanjikan. Dalam sehari, satu kapal bisa mendapatkan hingga 120 keranjang atau basket.
Andi menyebut hasil tangkapan satu kapal dapat mencapai sekitar seperempat dari kapasitas maksimal yang disebut mencapai 3,5 ton. Jumlah tangkapan bergantung pada kondisi musim dan keberadaan kawanan ubur-ubur di perairan.
“Sehari bisa dapat 120 basket,” ungkapnya.
Untuk harga, setiap keranjang ubur-ubur dihargai sekitar Rp 30 ribu secara kotor. Dari jumlah tersebut, Rp 5 ribu digunakan untuk membayar jasa buruh angkut, sehingga nelayan menerima sekitar Rp 25 ribu bersih per keranjang.
“Kalau bersihnya Rp 25 ribu per basket. Yang Rp 5 ribu untuk yang mengangkut,” jelas Andi.
Musim penangkapan ubur-ubur ini biasanya berlangsung sekitar satu setengah bulan. Meski demikian, pada kondisi tertentu, musimnya bisa bertahan hingga dua bulan, walaupun hal tersebut jarang terjadi.
“Paling lama satu bulan setengah. Sekarang sudah berjalan sekitar setengah bulan. Bisa sampai dua bulan, tetapi jarang,” katanya.
Setelah didaratkan, ubur-ubur tersebut selanjutnya diambil oleh pihak pembeli untuk dipasarkan. Andi menyebut, berdasarkan informasi yang diterimanya, ubur-ubur tidak hanya dimanfaatkan untuk konsumsi, tetapi juga untuk kebutuhan kosmetik dan ekspor.
“Katanya selain untuk konsumsi, juga untuk kosmetik dan kebutuhan ekspor,” imbuhnya.
Ramainya tangkapan ubur-ubur tak hanya membawa berkah bagi nelayan. Aktivitas tersebut turut membuka peluang penghasilan tambahan bagi buruh angkut di Pelabuhan Muncar.
Sahanan, salah seorang buruh angkut, mengatakan dirinya bersama rekan-rekannya ikut sibuk ketika kapal-kapal yang membawa ubur-ubur bersandar. Mereka bertugas memindahkan hasil tangkapan dari kapal ke tong, kemudian mengangkutnya ke truk pengangkut.
Dalam kegiatan bongkar muat itu, Sahanan bersama buruh lainnya mampu menangani puluhan tong berisi ubur-ubur. Setiap tong yang berhasil diangkut memberikan tambahan upah bagi mereka.
“Untuk satu tong, upahnya Rp 5 ribu,” kata Sahanan.
Dia tidak bekerja sendirian. Sejumlah buruh angkut lain turut membantu memindahkan tong-tong tersebut. Mereka biasanya menunggu di sekitar pelabuhan untuk menawarkan jasa ketika kapal nelayan mulai bersandar.
Bagi Sahanan dan rekan-rekannya, musim ubur-ubur menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan dari pekerjaan bongkar muat. Semakin banyak hasil tangkapan yang didaratkan, semakin banyak pula pekerjaan angkut yang bisa mereka kerjakan.
Musim uwur-uwur pun tak hanya menjadi peluang bagi nelayan untuk memperoleh hasil tangkapan tambahan, tetapi juga ikut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar Pelabuhan Muncar. (ep)

