Dam Setail di Wilayah Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi pada Oktober 2026 (Foto: Bagir/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Kemarau panjang yang melanda Banyuwangi dalam beberapa bulan terakhir berdampak pada menyusutnya debit air untuk kebutuhan pertanian. Di tengah kondisi tersebut, Dinas PU Pengairan Banyuwangi bersama kelompok petani melakukan pengaturan distribusi air secara bergiliran untuk menyelamatkan tanaman dari ancaman gagal panen.
Upaya ini salah satunya dilakukan di wilayah Koordinator Sumber Daya Air (Korsda) Genteng. Sejumlah areal persawahan yang mengandalkan pasokan air dari Dam Setail turut terdampak penurunan debit air seiring minimnya hujan dalam beberapa bulan terakhir.
Pasokan air dari hulu Sungai Kalistail semakin terbatas. Kondisi tersebut membuat petugas pengairan bersama Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) dan juru pengairan harus mengatur pembagian air agar kebutuhan tanaman di berbagai wilayah tetap terpenuhi.
Koordinator Sumber Daya Air Genteng, Sarwadi melalui Juru Kalisetail, Suharji mengatakan pengaturan distribusi dilakukan dengan sistem giliran. Langkah tersebut menjadi strategi untuk menjaga ketersediaan air di tengah kondisi yang cukup kritis.
“Dalam kondisi air yang sangat kritis, Korsda Genteng bersama HIPPA dan juru melakukan penyelamatan tanaman yang ada di wilayah masing-masing dengan sistem gilir,” kata Suharji, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, pengaturan distribusi air tersebut membantu petani mempertahankan tanaman padi hingga palawija. Meski pasokan air terbatas, sebagian besar proses panen dilaporkan tetap berjalan.
“Alhamdulillah, meskipun kondisi kritis, tidak sampai terjadi kekeringan yang mengakibatkan gagal panen secara luas. Panen berlangsung lancar mencapai 80 persen dan sisanya insyaallah aman. Tanaman padi hingga palawija petani berhasil terselamatkan berkat sistem gilir yang kami lakukan,” ujarnya.
Suharji menjelaskan, sistem pengairan bergiliran diterapkan pada lahan seluas sekitar 5.711 hektare yang dilayani jaringan pengairan di wilayah Korsda Genteng. Distribusi dilakukan secara bergantian, mulai dari bagian bawah hingga ke bagian atas, kemudian dilanjutkan sesuai jadwal pembagian berikutnya.
Pola tersebut diterapkan agar air yang tersedia dapat menjangkau seluruh area persawahan secara lebih merata. Dengan demikian, petani tidak hanya bergantung pada aliran air yang tersedia di bagian hulu.
“Untuk yang digilir, ada sekitar 5.711 hektare yang dilayani dengan sistem gilir dari bawah ke atas dan begitu pun seterusnya, agar distribusi mencukupi dan semua terbagi sama rata,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengaturan distribusi air menjadi langkah penting karena dampak kekeringan bisa semakin besar apabila pembagian air tidak dilakukan secara terencana. Karena itu, koordinasi dengan HIPPA, kelompok blok, dan subblok terus dilakukan untuk memastikan distribusi berjalan sesuai kebutuhan.
“Kalau tidak melakukan pembagian yang baik, capaian ini bisa jadi sulit dilakukan. Kami terus berkoordinasi dengan kelompok blok dan subblok untuk melakukan penyelamatan tanaman sembari menanti turunnya hujan,” tambah Suharji.
Upaya pengaturan air tersebut menjadi salah satu langkah untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah cuaca kering berkepanjangan. Petugas pengairan dan kelompok petani masih mengandalkan pola distribusi bergiliran agar tanaman yang belum memasuki masa panen tetap mendapatkan pasokan air.
Dengan pengaturan tersebut, diharapkan kebutuhan air pertanian dapat terdistribusi secara lebih merata hingga kondisi cuaca kembali mendukung dan debit air sungai berangsur pulih. (ep)

