Harga Lebih Terjangkau, Pasar Murah Pemprov Jatim di Kalibaru Banyuwangi Jadi Buruan Emak-emak

1ojai.jpg Gubernur Khofifah dan Bupati Ipuk Tinjau Pasar Murah yang Digelar Pemprov Jatim (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Pasar murah yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Pendopo Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, Sabtu (28/02/2026), diserbu warga. Sejak pagi, masyarakat rela mengantre demi mendapatkan paket sembako dengan harga lebih rendah dari pasaran.


Meski antusiasme tinggi, panitia memberlakukan pembatasan pembelian. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli satu paket per item guna menghindari aksi borong dan memastikan pemerataan.


Salah satu warga Desa Kalibaru Wetan, Sundari (49), mengaku terbantu dengan selisih harga yang cukup terasa dibanding pasar tradisional.


“Ini mau beli sembako yang ada di pasar murah. Harganya murah banget buat ibu rumah tangga. Kalau di pasar ayam Rp 35 ribu, di sini Rp 30 ribu. Pokoknya setiap produk yang dijual di sini pasti ada selisihnya. Semoga ada terus dan lancar,” ujarnya.


Hal senada disampaikan Leli Nuraditasari (42), warga Banyuanyar. Ia menyebut sejumlah komoditas memiliki perbedaan harga yang cukup signifikan.


“Harganya lumayan jauh dari pasar. Kalau beras memang tidak terlalu jauh, tapi produk lainnya selisihnya lumayan. Dengan adanya pasar murah ini sangat membantu, semoga sering-sering dilakukan,” katanya.


Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengatakan pasar murah di Kalibaru merupakan titik ke-28 pada tahun 2026. Program ini bertujuan menjaga stabilitas harga sekaligus memperluas jangkauan masyarakat terhadap kebutuhan pokok.


“Untuk tahun 2026 ini adalah titik pasar murah yang ke-28. Harapan kita bisa melakukan stabilisasi harga dan memperluas keterjangkauan,” ujar Khofifah.


Ia menegaskan lokasi pasar murah tidak boleh berdekatan dengan pasar tradisional agar tidak menjadi pesaing.


“Pesan saya jangan berdekatan dengan pasar tradisional karena pasar murah ini bukan kompetitor. Pastikan lebih dekat dengan komunitas permukiman masyarakat,” tegasnya.


Menurutnya, menjelang Ramadan dan Idul Fitri biasanya terjadi peningkatan permintaan bahan pokok. Karena itu, intervensi harga dinilai penting untuk menjaga daya beli warga.


“Ada sembako yang kita sediakan dengan harga relatif lebih murah agar membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.


Tak hanya sembako, pasar murah juga melibatkan pelaku UMKM lokal.


“Setiap pasar murah kita sandingkan dengan UMKM setempat. Ini bagian dari proses konvergensi antara stabilisasi harga, pengendalian inflasi, sekaligus kurasi produk UMKM agar bisa mendapatkan pasar lebih luas,” jelas Khofifah.


Adapun sejumlah harga komoditas yang dijual di antaranya beras SPHP Rp 11.000 per kilogram, beras premium Rp 70.000 per kemasan, tepung terigu Rp 10.000, gula pasir Rp 14.000, telur ayam ras Rp 22.000 per pack, Minyakita Rp 13.000 per liter, ayam Rp 30.000 per kilogram atau Rp 15.000 per setengah kilogram.


Selain itu, cabai rawit dijual Rp 4.000 per 100 gram, cabai merah besar Rp 2.000 per 100 gram, bawang putih Rp 6.000 per seperempat kilogram, dan bawang merah Rp 7.000 per seperempat kilogram.


Pemprov Jatim berharap pasar murah ini mampu membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok selama Ramadan hingga menjelang Idul Fitri dengan harga yang lebih terjangkau. (ep)