Insiden Kericuhan pada Turnamen Tarkam Piala PSSI Banyuwangi Antara Desi Banteng FC vs Persegam Gambiran (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Insiden kericuhan yang mewarnai laga semifinal turnamen Tarkam Piala PSSI Banyuwangi antara Desi Banteng FC Muncar dan Persegam Gambiran terus menuai sorotan. Bentrokan antarsuporter yang terjadi di Lapangan Maron, Genteng, Kamis (28/5/2026), mengakibatkan sejumlah penonton mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.
Meski sebagian besar korban telah diperbolehkan pulang, satu orang suporter dilaporkan masih menjalani perawatan di RS Graha Medika Gambiran. Kondisi tersebut memicu kekecewaan dari pihak Desi Banteng FC yang menilai panitia penyelenggara belum menunjukkan tanggung jawab yang memadai pascakejadian.
Pendiri Desi Banteng FC, Desi Prakasiwi, menyayangkan minimnya perhatian panitia terhadap para korban. Menurutnya, hingga sehari setelah insiden berlangsung, belum ada perwakilan panitia yang datang ke rumah sakit untuk memastikan kondisi korban maupun memberikan dukungan kepada keluarga yang terdampak.
“Ini murni kelalaian panitia. Sampai sekarang belum ada yang datang menjenguk korban. Padahal jumlah korban tidak sedikit dan ada yang masih menjalani perawatan,” kata Desi.
Desi juga mempertanyakan keputusan panitia yang tetap melanjutkan pertandingan semifinal lainnya di Lapangan Maron. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan belum adanya evaluasi serius terhadap aspek keamanan meski sehari sebelumnya terjadi kericuhan yang cukup besar.
“Yang saya sesalkan, pertandingan masih dilanjutkan di tempat yang sama. Seharusnya setelah kejadian kemarin ada evaluasi terlebih dahulu terkait pengamanan dan keselamatan suporter,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa sebelum pertandingan berlangsung, pihaknya telah mengingatkan panitia mengenai tingginya potensi gesekan antarpendukung. Bahkan dalam forum technical meeting, Desi mengusulkan agar laga semifinal dipindahkan ke stadion yang memiliki fasilitas dan sistem pengamanan lebih memadai.
Namun usulan tersebut tidak diakomodasi. Kekhawatiran yang sebelumnya disampaikan akhirnya menjadi kenyataan ketika bentrokan antarsuporter pecah bahkan sebelum pertandingan dimulai.
“Saya sudah menyampaikan saat technical meeting agar pertandingan dipindahkan ke stadion. Menurut saya, pengamanan di semifinal harus lebih maksimal karena atmosfer dan tensinya berbeda. Ternyata sebelum kick-off saja sudah terjadi bentrokan,” tegasnya.
Menurut Desi, fanatisme suporter merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Namun, potensi konflik yang muncul akibat rivalitas harus diantisipasi melalui perencanaan yang matang, mulai dari pemisahan tribun pendukung, penambahan personel keamanan hingga pengaturan arus keluar masuk penonton.
Karena itu, ia mendesak panitia melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan turnamen. Evaluasi tersebut dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang pada pertandingan berikutnya maupun kompetisi lain di masa mendatang.
Selain menyoroti aspek moral dan tanggung jawab penyelenggara, Desi juga mengingatkan adanya konsekuensi hukum apabila penyelenggara terbukti lalai dalam memenuhi standar keselamatan pertandingan. Ia merujuk pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan yang mengatur sanksi bagi penyelenggara kegiatan olahraga yang mengabaikan faktor keamanan hingga menimbulkan korban.
“Keselamatan pemain, ofisial dan suporter harus menjadi prioritas. Jangan sampai kejadian seperti ini dianggap biasa. Harus ada evaluasi dan tanggung jawab yang jelas,” pungkasnya.
Sementara itu, turnamen Tarkam Piala Ketua PSSI Banyuwangi tetap berlanjut. Pada Jumat (29/5/2026) sore kemarin, semifinal lainnya mempertemukan Argent Genteng melawan Putra Minak Jinggo (PMJ) Krikilan.
PMJ berhasil menumbangkan perlawanan tuan rumah dengan skor 2-0. Satu tiker final pun berhasil dikunci tim tamu untuk menantang Persegam Gambiran di partai puncak. (ep)

