Nobar dan Diskusi Film Pesta Babi di Banyuwangi Jadi Ruang Pelajar Bahas Isu Sosial

20260519_130332.jpg Komunitas Pelajar Skena, IPNU Banyuwangi dan BEM Poliwangi Menggelar Nonton Bareng Film Pesta Babi (Foto: Miswan/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Komunitas Pelajar Skena bersama PC IPNU Banyuwangi dan BEM Poliwangi menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi di Warkop Jalan Sukses Selalu, Jumat (15/05/2026) malam.


Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB itu dihadiri sekitar 150 peserta dari berbagai elemen masyarakat, mulai dari Aliansi Pelajar Banyuwangi, kader IPNU se-Banyuwangi, mahasiswa Papua, mahasiswa Banyuwangi, hingga masyarakat sipil.


Koordinator Pelajar Skena sekaligus Ketua Panitia, Bagas Husron Jillyansyach, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang alternatif bagi pelajar untuk berdiskusi dan memahami realitas sosial melalui media film.


“Pelajar bukan cuma mesin hafalan dan angka-angka rapor. Pelajar juga manusia yang punya keresahan, ketakutan, luka, dan hak untuk memahami realita sosial di sekitarnya,” kata Bagas dalam keterangannya.


Menurut dia, pemutaran film Pesta Babi bukan sekadar agenda hiburan, melainkan sarana membuka diskusi mengenai isu kekerasan, ketidakadilan, solidaritas, dan suara kelompok kecil yang kerap dibungkam.


Ia menilai budaya pendidikan saat ini sering kali menuntut kepatuhan tanpa memberi ruang bertanya dan berpikir kritis kepada pelajar.


Karena itu, pihaknya ingin menghadirkan ruang aman bagi pelajar untuk berdialog serta bertukar pengalaman dan perspektif.


“Melalui seni, film, musik, dan diskusi, pelajar bisa belajar memahami kehidupan sekaligus membangun keberpihakan terhadap sesama manusia,” ujarnya.


Dalam agenda tersebut juga membuka ruang baca buku gratis sebagai bahan dalam memulai diskusi pada acara tersebut 

Selain menjadi ruang refleksi sosial, kegiatan tersebut juga bertujuan menumbuhkan solidaritas dan kultur kolektif di kalangan pelajar serta mahasiswa di Banyuwangi.


Panitia berharap agenda serupa dapat terus dilakukan sebagai wadah belajar alternatif sekaligus ruang bersuara bagi generasi muda terhadap isu kemanusiaan dan ketidakadilan sosial. (*)