Sejumlah Truk Antre hingga 5 Hari di Penyeberangan Banyuwangi - Lembar

1fubu98.jpg Tangkapan Layar Rekaman Video Suasana Truk Antre di Pelabuhan Tanjungwangi (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Antrean panjang terjadi di lintasan penyeberangan Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi, menuju Pelabuhan Lembar, Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejumlah truk logistik dilaporkan harus menunggu hingga lima hari untuk bisa menyeberang.


Kondisi tersebut membuat kantong parkir Tanjungwangi dan Sritanjung dipenuhi kendaraan berat. Panjangnya antrean dipicu terbatasnya jumlah kapal yang melayani truk bermuatan besar. Saat ini, hanya tiga kapal yang beroperasi setiap hari, sementara jumlah truk yang masuk mencapai ribuan unit.


Situasi ini mendorong sekitar 20 perwakilan Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) mendatangi Kantor DPRD Kabupaten Banyuwangi. Mereka menuntut penambahan armada kapal di lintasan Banyuwangi–Lembar, pembukaan kembali rute ASDP Ketapang–Lembar, serta penyesuaian tarif penyeberangan Jangkar–Lembar.


Koordinator ASLI Banyuwangi, Slamet Barokah, mengatakan selisih tarif antara rute Jangkar–Lembar dan Banyuwangi–Lembar dinilai terlalu tinggi, yakni berkisar Rp 900 ribu hingga Rp 1,05 juta per unit truk.


“Rute Banyuwangi–Lembar jadi pilihan utama karena selain banyak sopir berasal dari Banyuwangi, tarifnya juga lebih murah. Banyuwangi–Lembar sekitar Rp 3.246.000, sementara Jangkar–Lembar mencapai Rp 4.217.000 per truk,” kata Slamet, Selasa (28/1/2026).


Slamet berharap aspirasi tersebut bisa menjadi perhatian pemangku kebijakan. Ia menilai, langkah paling mendesak adalah mengaktifkan kembali penyeberangan Ketapang–Lembar dan menambah jumlah kapal yang beroperasi.


“Untuk mempercepat distribusi logistik ke Lombok, rute Ketapang–Lembar harus segera dibuka kembali. Saat ini antrean bongkar muat di Tanjungwangi sangat lama, bisa berhari-hari sampai lima hari. Di Jangkar bahkan ada yang menunggu hingga satu minggu,” tegasnya.


Menanggapi hal tersebut, Ketua Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Banyuwangi, I Putu Gede Widiana, mengungkapkan bahwa aktivitas penyeberangan Jangkar–Lembar saat ini memang sedang lesu.


“Pengusaha kapal satu per satu mundur. Saat ini kemungkinan hanya tersisa dua kapal yang masih beroperasi di lintasan Jangkar–Lembar,” ujarnya.


Menurut Putu, kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya minat sopir logistik menggunakan rute Jangkar. Namun, pihaknya tidak bisa memaksakan pilihan kepada para sopir.


“Kami tidak bisa memaksa sopir menyeberang lewat Jangkar. Pengusaha kapal hanya bisa menjalankan operasional sesuai SOP,” katanya.


Putu menambahkan, pembukaan kembali rute Ketapang–Lembar berpotensi meningkatkan volume muatan kapal dan menggairahkan kembali sektor usaha penyeberangan.


“Dari sisi pengusaha, Ketapang–Lembar jelas lebih menjanjikan. Kami tentu menyambut baik jika ada jalur penyeberangan baru yang dibuka kembali,” pungkasnya. (ep)