Separuh Kasus Kebakaran di Banyuwangi Dipicu Korsleting Listrik, Damkar: Jangan Anggap Sepele

1auigio.jpg Ilustrasi AI

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Hubungan arus pendek atau korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran di Kabupaten Banyuwangi. Selama semester pertama 2026, hampir separuh kasus kebakaran bangunan, kendaraan, hingga gardu listrik dipicu oleh masalah instalasi listrik.


Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Banyuwangi mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2026 terjadi 84 kasus kebakaran. Dari jumlah tersebut, sebanyak 74 kasus merupakan kebakaran yang menghanguskan bangunan, kendaraan, dan gardu listrik, sedangkan sisanya merupakan kebakaran lahan maupun objek lainnya.


Humas Damkarmat Banyuwangi, Muammar Kadhafi, mengatakan dari 74 kasus tersebut, 34 kasus atau hampir 50 persen disebabkan oleh korsleting listrik.


"Kurang lebih 50 persen kebakaran bangunan, kendaraan, dan tiang listrik yang kami tangani dipicu oleh hubungan arus pendek atau korsleting listrik," kata Kadhafi.


Ia menjelaskan, tren kebakaran akibat korsleting listrik selama enam bulan terakhir menunjukkan angka yang fluktuatif. Pada Januari tercatat tiga kasus, kemudian meningkat menjadi delapan kasus pada Februari dan mencapai puncaknya pada Maret dengan sembilan kasus.


"Memasuki April sempat turun menjadi tiga kasus. Namun pada Mei kembali naik menjadi lima kasus dan Juni bertambah menjadi enam kasus. Jadi total ada 34 kejadian kebakaran akibat korsleting listrik selama semester pertama tahun ini," ujarnya.


Selain korsleting listrik, kebocoran regulator tabung gas LPG juga menjadi penyebab kebakaran bangunan yang cukup dominan.


"Setelah korsleting, penyebab kebakaran bangunan berikutnya adalah kebocoran regulator gas LPG dengan delapan kasus," ungkapnya.


Sementara itu, untuk kebakaran lahan, penyebab terbanyak berasal dari aktivitas membakar sampah yang mencapai 18 kasus. Selain itu, terdapat delapan kasus akibat puntung rokok dan satu kasus yang dipicu faktor cuaca.


Melihat tingginya angka kebakaran akibat korsleting listrik, Damkarmat Banyuwangi mengimbau masyarakat agar lebih memperhatikan kondisi instalasi listrik di rumah maupun tempat usaha.


"Kami mengimbau masyarakat rutin memeriksa instalasi listrik. Pastikan kabel yang digunakan berstandar SNI, tidak mengelupas, dan sambungan listrik tidak asal-asalan. Jika usia instalasi sudah tua atau terlihat rusak, segera lakukan peremajaan melalui teknisi yang kompeten sebelum menimbulkan korsleting," kata Kadhafi.


Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan peralatan elektronik tetap terhubung ke stop kontak saat tidak digunakan. Kebiasaan tersebut dapat memicu panas berlebih yang berpotensi menyebabkan kebakaran.


"Banyak yang menganggap sepele charger ponsel, televisi, kipas angin, atau peralatan elektronik lainnya tetap tertancap di stop kontak. Padahal kondisi itu bisa menimbulkan overheating hingga memicu percikan api," jelasnya.


Kadhafi mengimbau masyarakat membiasakan mencabut colokan peralatan elektronik setelah digunakan, terutama sebelum tidur atau saat meninggalkan rumah.


"Langkah sederhana seperti mencabut colokan listrik setelah digunakan tidak hanya menghemat konsumsi listrik, tetapi juga menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengurangi risiko kebakaran akibat korsleting," pungkasnya. (ep)