Pelabuhan Ketapang Banyuwangi pada 17 Maret 2026 dari Udara dan GoogleMaps (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Kebijakan Tiba Bongkar Berangkat (TBB) yang diterapkan untuk mengurai kemacetan panjang di Gilimanuk, Bali, mulai berdampak ke sisi sebaliknya. Hingga Selasa (17/03/2026) siang, Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, terpantau padat dengan antrean kendaraan yang mengular hingga keluar area pelabuhan.
Pantauan di lokasi menunjukkan kantong parkir di dalam pelabuhan dipenuhi berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, travel, hingga truk logistik. Sejumlah pengguna jasa mengaku harus menunggu berjam-jam untuk bisa menyeberang ke Bali.
Kondisi ini tak lepas dari penerapan skema TBB, di mana kapal yang tiba dari Gilimanuk hanya menurunkan muatan di Ketapang, kemudian langsung kembali ke Bali tanpa mengangkut kendaraan dari Jawa.
General Manager ASDP Ketapang, Arief Eko Kurnianjah sebelumnya menjelaskan kebijakan tersebut diambil untuk mengurai antrean kendaraan di Gilimanuk yang sempat mencapai puluhan kilometer.
“Untuk mengurai kemacetan di Gilimanuk, kami menerapkan pola bongkar berangkat di empat dermaga di Ketapang,” kata Arief.
Menurutnya, kapal yang tiba dari Bali memang difokuskan untuk segera kembali guna mengangkut kendaraan yang masih mengantre di Gilimanuk.
“Jadi kapal dari Gilimanuk hanya bongkar di Ketapang, setelah itu langsung kembali dalam kondisi kosong untuk mempercepat pengangkutan antrean kendaraan di Bali,” jelasnya.
Arief mengakui, kebijakan ini berdampak pada penumpukan kendaraan di Pelabuhan Ketapang.
“Pemberlakuan empat dermaga untuk pola TBB dan dua dermaga reguler memang memicu penumpukan di Ketapang. Namun ini menjadi prioritas untuk mengurai kepadatan di Gilimanuk terlebih dahulu,” ujarnya.
Berdasarkan data per Senin (16/3/2026), arus penyeberangan dari Bali ke Jawa masih mendominasi.
Dari Gilimanuk menuju Ketapang tercatat sebanyak 78.167 penumpang dengan total 22.930 unit kendaraan. Sepeda motor mendominasi dengan 14.471 unit, disusul kendaraan kecil sebanyak 6.117 unit. Total perjalanan kapal mencapai 246 trip.
Sementara dari Ketapang menuju Gilimanuk, tercatat 21.611 penumpang dan 3.502 unit kendaraan dengan total 260 trip kapal.
Meski jumlah trip dari Ketapang lebih banyak, kapasitas angkut kendaraan dari Jawa tetap terbatas karena sebagian kapal diberangkatkan dalam kondisi kosong sebagai bagian dari skema TBB.
Secara kumulatif sejak H-10, pergerakan penumpang dan kendaraan di lintasan Ketapang–Gilimanuk menunjukkan dominasi arus dari Bali ke Jawa.
Dari Jawa ke Bali tercatat 148.673 orang dan 29.680 unit kendaraan. Sementara dari Bali ke Jawa mencapai 309.135 orang dan 97.787 unit kendaraan.
Arief menegaskan, kebijakan ini bersifat situasional dan akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan.
“Kami terus berkoordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk melakukan penyesuaian operasional, termasuk kemungkinan fleksibilitas dermaga TBB agar antrean di kedua sisi bisa tetap terkendali,” pungkasnya.
Masyarakat diimbau untuk mengatur waktu perjalanan dengan baik, mengingat penyeberangan Ketapang–Gilimanuk akan ditutup sementara saat Hari Raya Nyepi mulai Rabu dini hari hingga Jumat mendatang. (ep)

