
BWI24JAM.CO.ID Banyuwangi - Kepergian Muhammad Nur (42) usai tertimpa pohon sepulang mencari rumput dirasakan duka mendalam keluarga. Tak terkecuali putri sulung korban, Riska (25).
Betapa tidak. Riska melihat dengan mata kepala sendiri ketika ayahanda tercinta tertimpa pohon sepulang merumput. Tangisnya tak terbendung ketika menceritakan peristiwa itu.
Pada Minggu (09/02/2025) pagi, Riska menemani ayahnya berangkat ke kebun dekat lereng Gunung Raung. Bukan berboncengan, ia naik motor sendiri.
Sedangkan ayahnya mengendarai motor yang biasa dibawa mengangkut rumput dan hasil kebun. Tak ada firasat apapun sebelum peristiwa itu terjadi.
"Seperti biasa bantu bapak cari rumput di kebun. Berangkat tidak ada firasat apapun," kata Riska kepada Bwi24jam saat ditemui di rumahnya di Dusun Curahleduk, Desa Banyuanyar, Kecamatan Kalibaru, Selasa (11/02/2025).
Jarak menuju kebun cukup jauh nan terjal. Dibutuhkan waktu hampir 1 jam untuk sampai ke kebun. Berjarak sekitar 15 kilometer dari rumahnya.
Disitu Riska dan almarhum ayahnya mencari rumput sembari memanen pisang. Isi karung pun penuh rumput. Riska dan ayahnya berjalan beriringan pulang menuju rumah.
"Saya nyetir di depan terus ayah saya bawa rumput sama pisang naik motor pas di belakang," ungkapnya.
Sekitar pukul 14.00 WIB, petaka itupun datang. Saat melintasi jalan, tiba-tiba terdengar suara retakan. Lalu disusul robohnya pohon pinus yang letaknya di pinggir jalan.
"Angin bertiup kencang disertai hujan deras saat kami berangkat pulang. Pinus yang ambruk lalu menghantam motor ayah saya," ucap Riska.
"Lalu ayah saya tersungkur di jalan. Saya berteriak minta tolong. Saat itu ayah saya masih sadar ketika ditolong warga untuk dibawa ke rumah sakit," imbuhnya.
Riska menyebut jika ayahnya mengalami pembekuan darah pada bagian paru-paru. Serta luka-luka pada dada sebelah kanan sambung ke punggung bagian belakang.
Sempat dirawat, masih kata dia, kemudian ayahnya dirujuk ke RSUD dr Soebandi Jember. Muhammad Nur menghembuskan nafas terakhir pada Senin (10/02/2025) menjelang subuh.
Jenazahnya disemayamkan di rumah duka sebelum akhirnya dimakamkan di TPU dusun setempat.
Camat Kalibaru didampingi Kepala Desa Banyuanyar Illa Selviana takziah ke rumah duka. Dua pejabat teras di Kalibaru itu menyampaikan duka mendalam atas kepergian Muhammad Nur.
"Kami atas nama pemerintah kecamatan dan desa menyampaikan duka mendalam bagi keluarga," ujar Plt Camat Kalibaru Yusdi Irawan.
Yusdi menyebut akan mengupayakan beasiswa bagi anak bungsu korban. Yang kini duduk di bangku kelas 4 madrasah ibtidaiyah (MI).
"Kami upayakan beasiswa anak bungsu bapak Muhammad Nur yang masih sekolah. Nanti akan kami komunikasikan dengan Kemenag Banyuwangi yang menaungi sekolah tempat a nak almarhum bersekolah," jelasnya. (ep)