Air Sumur Berbusa dan Tak Bisa untuk Masak, Warga Srono Minta Bantuan Damkar

1dnnn.jpg Petugas Damkar Menyemprotkan Air Bertekanan Tinggi ke Dalam Sumur yang Berbusa dan Berbau (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Air sumur milik warga di Dusun Pekulo, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Banyuwangi, dikeluhkan berbau menyengat dan berbusa. Kondisi tersebut membuat pemilik sumur mengaku tidak bisa menggunakan air untuk memasak.


Warga kemudian meminta bantuan petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) untuk membersihkan sumur sedalam sekitar 30 meter itu. Petugas Damkar Sektor Genteng melakukan penanganan pada Senin (12/10/2026) sekitar pukul 09.00 WIB. 


Koordinator Damkar Sektor Genteng, Sutikno, mengatakan petugas melakukan penggurahan dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi ke dalam sumur.


Menurut Sutikno, metode tersebut dilakukan untuk mendorong endapan yang berada di dasar maupun bagian dalam sumur agar keluar ke permukaan.


“Penanganannya dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi ke dalam sumur. Cara ini dilakukan untuk mendorong pasir, lumpur, dan air yang berbau agar keluar,” ujar Sutikno.


Ia menjelaskan, proses pembersihan berlangsung sekitar 30 menit. Selama proses tersebut, petugas mendapati pasir, lumpur, serta air berbau menyengat keluar dari dalam sumur.


“Dalam proses penggurahan itu, pasir dan lumpur ikut keluar bersama air yang berbau. Jadi, kotoran yang ada di dalam sumur didorong keluar menggunakan semprotan air bertekanan tinggi,” jelasnya.


Sutikno menyebut metode tersebut dikenal dengan istilah digurah. Penanganan dilakukan untuk membantu membersihkan bagian dalam sumur dari endapan yang terbawa keluar saat penyemprotan.


“Prosesnya sekitar 30 menit. Setelah kotoran dan air yang berbau keluar, air di dalam sumur kemudian diganti dengan air yang lebih bersih,” katanya.


Meski demikian, Sutikno belum dapat memastikan penyebab air sumur tersebut berbau dan berbusa. Penanganan yang dilakukan petugas berfokus pada pembersihan sumur, bukan pemeriksaan kandungan air.


Keluhan pemilik sumur sebelumnya juga berkaitan dengan penggunaan air untuk kebutuhan sehari-hari. Selain bau menyengat dan busa, pemilik mengaku mengalami gangguan kulit setelah menggunakan air tersebut.


"Pemilik rumah sempat mengeluhkan gatal-gatal usai mandi menggunakan air tersebut," jelas Sutikno.


Sutikno menambahkan, penyebab pasti perubahan kondisi air itu masih perlu ditelusuri lebih lanjut. Air yang terlihat lebih bersih setelah penggurahan belum tentu langsung aman untuk dikonsumsi.


"Karena itu, pengujian kualitas air di laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan pencemar atau faktor lain yang menyebabkan air berbau dan berbusa. Untuk sementara, air sebaiknya tidak digunakan untuk minum maupun memasak hingga dinyatakan aman" tandasnya. (ep)