Ancaman Gagal Panen Mengintai, Ratusan Warga Kalibaru Banyuwangi Gelar Salat Istisqa

1kjiol.jpg Forpimka bersama Warga Kecamatan Kalibaru Gelar Salat Istisqa Memohon Turunnya Hujan (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Ancaman gagal panen mulai membayangi petani kopi di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi. Memasuki Oktober, hujan yang biasanya mulai mengguyur wilayah tersebut justru belum kunjung datang.


Kondisi itu membuat ratusan warga Desa Kalibarumanis, Kecamatan Kalibaru, menggelar salat istisqa atau salat meminta hujan di lapangan desa setempat, Senin (05/10/2026) pagi.


Ratusan jemaah dari berbagai latar belakang mengikuti salat istisqa secara berjamaah. Salat diimami KH Abdullah, sementara KH Musryid bertindak sebagai khatib.


Kegiatan tersebut digelar atas sinergi pemerintah kecamatan bersama Kapolsek, Danramil, MUI, serta organisasi Islam NU dan Muhammadiyah.


Camat Kalibaru M Luqman mengatakan, pelaksanaan salat istisqa berawal dari keresahan masyarakat yang mulai merasakan dampak minimnya hujan.


"Kami bersinergi bersama Kapolsek, Danramil, MUI, organisasi Islam NU dan Muhammadiyah bersama-sama melaksanakan ibadah salat istisqa berjamaah," kata Luqman.


Menurut Luqman, kondisi cuaca saat ini cukup berbeda dengan biasanya. Memasuki Oktober, Kalibaru umumnya mulai mendapatkan hujan dengan intensitas cukup tinggi.


Namun tahun ini, hujan belum juga turun. Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap tanaman pertanian, terutama kopi yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat.


"Biasanya hujan ini lebat di Kalibaru, terlebih di bulan-bulan Oktober. Namun sampai saat ini hujan tak kunjung turun," ujarnya.


Luqman menyebut, sejumlah tanaman kopi mulai menunjukkan tanda-tanda kekurangan air. Daun tanaman kopi bahkan mulai melintir atau keriting akibat minimnya pasokan air.


Padahal, tahun ini tanaman kopi di wilayah tersebut memiliki kondisi bunga yang cukup bagus. Karena itu, petani berharap hujan segera turun agar perkembangan buah kopi tidak terganggu.


"Yang tahun ini alhamdulillah bunganya bagus, tapi kalau tidak ada air dampaknya bisa berpotensi gagal panen," ungkapnya.


Kekhawatiran itu juga dirasakan langsung petani kopi. Sholeh, salah seorang petani, mengaku mulai ketar-ketir melihat kondisi tanaman kopinya.


Menurut dia, kekurangan air dapat memengaruhi perkembangan biji kopi. Jika terus terjadi, buah kopi dikhawatirkan tidak berkembang secara maksimal dan menghasilkan biji yang kopong.


"Kami semua ketar-ketir jika tidak ada air, bisa-bisa gagal panen karena bijinya kopong akibat kurangnya asupan air pada tanaman," kata Sholeh.


Tak hanya tanaman kopi, Sholeh menyebut sumber-sumber air di wilayah atas juga mulai mengering. Padahal, petani biasanya mulai bersiap menghadapi musim hujan pada Oktober.


"Sumber-sumber yang di atas itu juga mulai mengering. Biasanya di bulan Oktober ini sudah mulai hujan, namun justru panas dan tidak ada tanda-tanda akan turun hujan," ujarnya.


Kondisi tersebut membuat petani berharap hujan segera turun. Mereka khawatir tanaman kopi yang kini mulai kekurangan air akan semakin rusak jika kondisi kering berlangsung lebih lama.


"Semoga setelah ini akan turun hujan dan tanaman kopi kami tidak layu, daunnya tidak keriting dan kami tidak dibayang-bayangi gagal panen," harap Sholeh.


Sementara itu, Luqman mengatakan salat istisqa menjadi ikhtiar masyarakat untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan.


Menurutnya, munculnya kekhawatiran masyarakat terhadap kondisi kekeringan menjadi dorongan untuk bersama-sama melakukan ikhtiar secara spiritual.


"Masyarakat sebelumnya mengeluh tidak adanya hujan. Kemudian kami koordinir bersama untuk menggagas pelaksanaan salat istisqa. Kita memohon kepada Allah supaya menurunkan hujan," tuturnya.


Luqman juga mengajak masyarakat menjadikan kondisi tersebut sebagai momentum untuk bermuhasabah dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.


Ia menyebut Kalibaru selama ini dikenal memiliki sumber air yang melimpah. Namun, saat ini sejumlah sumber air mulai mengering.


"Mudah-mudahan masyarakat mulai bermuhasabah, mendekatkan diri kepada Allah meminta hujan. Barangkali kondisi ini merupakan sebuah teguran kepada kita," katanya.


Menurut Luqman, kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat lebih bersyukur dan menjaga lingkungan.


"Kita tahu Kalibaru ini airnya sangat melimpah, namun saat ini sumber-sumber mulai mengering. Bisa saja ini adalah sebuah peringatan dan melalui ibadah salat ini adalah sarana mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa," pungkasnya. (ep)