Banjir Rob di Wringinputih Ungkap Kerentanan Tambak Udang Banyuwangi, Riset WRI Soroti Peran Perempuan

Untitled_design_-_18.png Banjir Rob di Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Banyuwangi (Foto: WRI Indonesia/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Banjir rob yang kembali merendam Desa Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada akhir Februari lalu menjadi pengingat nyata bahwa masyarakat sekaligus pengelola tambak udang di pesisir semakin rentan terhadap dampak krisis iklim. Di saat yang sama, peran perempuan dan orang muda dalam menopang praktik budidaya udang masih sering tidak terlihat dan jarang dihitung dalam pengambilan keputusan.


Menjawab tantangan tersebut, World Resources Institute Indonesia (WRI Indonesia) menyelesaikan asesmen lapangan untuk riset awal mengenai pemberdayaan perempuan dalam perikanan dan akuakultur (Women's Empowerment in Fisheries and Aquaculture Index/WEFI) serta penghitungan jejak karbon (Greenhouse gas/GHG footprint) sektor tambak udang di Desa Wringinputih.


Survei yang dilakukan pada 19 Februari–5 Maret 2026 ini melibatkan 438 responden dari 219 rumah tangga serta 35 tambak udang, sebagai data dasar untuk menilai dampak program peningkatan budidaya udang berkelanjutan di wilayah tersebut.


Spesialis Senior GEDSI WRI Indonesia, Astri Carolina, mengatakan bahwa asesmen riset ini merupakan pengumpulan data awal untuk mengukur dampak program pra-implementasi dan akan dilakukan kembali pada 2027 mendatang setelah program terlaksana.


Fokus asesmen riset ini untuk memetakan siapa dan bagaimana bentuk partisipasi seseorang dalam praktik budi daya tambak udang dan perikanan di Desa Wringinputih.


Astri melanjutkan, hal ini didasarkan dari temuan awal tim riset bahwa perempuan dan orang muda punya peran nyata dalam budi daya tambak udang dan perikanan yang saat ini kerap tidak terlihat dan tidak terhitung.


“Misalnya, siapa saja yang terlibat dalam mitigasi untuk berbagai kemungkinan gagal panen di sektor budi daya udang? Apakah para perempuan dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Atau bahkan turut menanggung risiko tersebut? Riset kami ingin melihat apakah ada ketimpangan dalam pengelolaan tambak-tambak udang dan perikanan itu,” kata Astri, Jumat (13/03/2026).


Program yang dimaksud Astri adalah AQUADAPT, sebuah program inisiatif yang ingin mengedepankan budidaya udang ramah lingkungan dengan mempromosikan praktik keberlanjutan, memperkuat mata pencaharian, serta mendukung kebijakan publik dan investasi berbasis riset. Program ini dikerjakan oleh konsorsium tiga organisasi bersama Konservasi Indonesia dan Universitas Padjadjaran bernama Leveraging Climate-Smart Shrimp Aquaculture Solutions in Indonesia (LEAPS). Kerja pelaksanaan konsorsium didanai oleh Government of Canada’s International Climate Finance Initiative dan International Development Research Centre, Ottawa, Kanada.

 

Saat proses pengambilan data sedang berjalan, pada 22 Februari, sejumlah titik di Desa Wringinputih kembali digenangi banjir rob akibat luapan air dari laut dan sungai. Banjir rob hari itu juga masuk ke sejumlah rumah warga. Sejak beberapa tahun terakhir, Desa Wringinputih memang kerap mengalami banjir rob. Analisis dari tim Data Lab WRI Indonesia menemukan adanya kenaikan muka serta suhu air laut di wilayah Kabupaten Banyuwangi — efek panjang dari krisis iklim.


“Dengan adanya banjir rob di Wringinputih, semakin menunjukkan bahwa masyarakat rentanlah yang paling terdampak dari krisis iklim ini. Mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk menanggulangi gagal panen, tambak rusak, harus kerja lebih untuk membersihkan rumah

pascabanjir rob, atau memikirkan alternatif pendapatan lain untuk bertahan hidup,” kata Astri.


Fisheries and Aquaculture Program Manager Konservasi Indonesia, Burhanuddin, menyatakan asesmen awal WRI Indonesia di Desa Wringinputih menjadi dasar penting untuk memperkuat data pengelolaan ekosistem pesisir sekaligus mendukung pengembangan budidaya udang yang lebih ramah lingkungan.


“Data awal ini memberi gambaran kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan di tingkat tapak. Ke depan, hasil riset ini diharapkan menjadi rujukan dalam merancang praktik budidaya udang yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir,” ujar Burhanuddin.


Tim WRI Indonesia setidaknya mengidentifikasi empat kelompok rentan: perempuan dalam rumah tangga di tambak udang skala kecil, perempuan sebagai kepala rumah tangga, anak-anak orang muda, serta kaum difabel. Mereka memiliki posisi yang paling rentan dan tidak diuntungkan ketika krisis iklim semakin memburuk.


Dalam serangkaian riset dan program AQUADAPT ini, WRI Indonesia bersama anggota konsorsium lainnya berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, untuk bersama membangun praktik tambak udang di Indonesia, beserta ekosistem lingkungan hidupnya, tetap lestari, inklusif, dan membawa kesejahteraan.


Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (PPKB) Kabupaten Banyuwangi, Setyo Puguh Widodo, menyambut baik serta mengapresiasi inisiatif WRI Indonesia untuk melakukan riset mengenai pemberdayaan perempuan di sektor tambak udang di Banyuwangi, khususnya di Desa Wringinputih. Ia berharap hasil dari survei yang dilakukan WRI Indonesia ini bisa menjadi masukan berbasis riset untuk pengembangan kebijakan pemerintah Kabupaten Banyuwangi.


“Kami menyambut baik kegiatan dari WEFI ini terkait dengan survei, khususnya di Desa Wringinputih. Ini harapannya, nanti hasilnya ini bisa menghasilkan rumusan-rumusan terkait dengan penguatan masyarakat pesisir, baik secara ekonomi maupun juga masalah sosial lainnya,” kata Puguh.


“Sehingga masyarakat pesisir ini tidak hanya menggantungkan di salah satu sumber daya saja, tapi bisa mungkin ada alternatif lain yang dari keluarga miskin ini bisa bertahan dari risiko-risiko terkait dengan kerentanan bencana maupun gagal panen lainnya,” imbuhnya.


Apalagi, tambah Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi, Suryono Bintang Samudra, Desa Wringinputih merupakan salah satu wilayah andalan di sektor tambak, termasuk tambak udang. Hal tersebut bisa dilihat dari total luasan tambak di Wringinputih yang hampir mencakup setengah dari total luasan se-kabupaten.


“Karena memang Wringinputih itu termasuk luasan tambak tertinggi desanya di Kabupaten Banyuwangi, hampir sekitar 600 hektare ada di Wringinputih sendiri. Dengan total luasan tambak di Kabupaten Banyuwangi itu sekitar 1.381 hektare. Wringinputih masih banyak tambak-tambak yang dikelola rakyat, oleh masyarakat. Kita banyak kelompok-kelompok perikanan budi daya tambak yang ada di sana,” kata Suryono.


Tak hanya itu, Puguh & Suryono juga mengakui bahwa Desa Wringinputih memang kerap dilanda banjir rob luapan dari pesisir laut. Puguh mengatakan bahwa banjir rob yang terjadi di Wringinputih tak hanya menyebabkan kerusakan infrastruktur, namun juga menurunkan kualitas hidup masyarakat karena gagal panen, gangguan kesehatan, bahkan risiko putus sekolah.


“Dinas Sosial tentunya akan memberikan perlindungan sosial berupa bantuan, pendampingan psikologis, dan juga terkait dengan pemberdayaan ekonomi keluarga, sehingga masyarakat yang rentan terkait dengan bencana ini bisa bertahan secara ekonomi dan stabil terkait dengan masalah sosialnya," kata Puguh.


Senada dengan Puguh, Suryono juga mengaku bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah langkah seperti perbaikan tanggul dan juga penanaman mangrove sebagai bentuk mitigasi dan meminimalisir dari banjir rob yang parah di masa mendatang. “Kemudian dari pemerintah juga menaikkan level jalan, jalan-jalan produksi tambak itu. Jadi ada pengerasan jalan dan juga pavingisasi di kawasan Wringinputih,” kata Suryono. (rq)