Driver Ojol Perempuan Laily (Kiri) saat Antar Pesanan Pelanggan di Wilayah Genteng, Banyuwangi (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Semangat Raden Ajeng Kartini terus hidup dalam perjuangan perempuan masa kini. Sosok itu tercermin dari Nur Laili Azizah (37), driver ojek online asal Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, yang tak kenal lelah berjuang demi keluarga.
Sejak 2019, Laily memilih mengaspal untuk membantu ekonomi rumah tangga. Ia membesarkan dua anaknya, M Ardi dan Melisa, sementara sang suami bekerja di luar pulau.
Bagi Laily, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, tapi juga bentuk tanggung jawab sebagai seorang ibu.
“Awalnya saya cuma ingin bantu ekonomi keluarga. Tapi lama-lama jadi kebiasaan, jadi bagian dari hidup. Yang penting anak-anak bisa tetap sekolah dan kebutuhan tercukupi,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Perjalanan Laily di jalanan tak selalu mudah. Ia mengaku banyak pengalaman pahit yang harus ditelan, mulai dari ditipu pelanggan hingga risiko di jalan.
“Banyak kesan suka dan dukanya. Namun tetap dilakuin dengan semangat dan pantang menyerah,” katanya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah saat ia harus menanggung kerugian setelah pesanan makanan senilai Rp150 ribu tidak dibayar pelanggan.
“Waktu itu saya sempat kepikiran, kok tega ya. Sudah dibelikan, diantar, tapi cuma janji mau transfer. Sampai sekarang nggak pernah ada kabarnya lagi,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, ia juga pernah mengalami kejadian serupa saat dimintai tolong membelikan token listrik.
“Pernah juga dimintai tolong beli token sampai Rp200 ribu. Pas ditagih malah nomor saya diblokir. Ya sudah, mau gimana lagi. Saya anggap saja itu ujian,” ucapnya pasrah.
Risiko kecelakaan pun pernah ia alami. Sepanjang tahun 2025, Laily tercatat sudah empat kali jatuh dari motor saat bekerja.
“Namanya di jalan, risiko pasti ada. Saya pernah jatuh beberapa kali, tapi ya tetap bangkit lagi. Kalau tidak kerja, anak-anak mau makan apa,” tuturnya.
Di tengah kondisi orderan yang tak menentu, Laily tak tinggal diam. Saat pesanan sepi, ia berinisiatif membuat aneka kue untuk menambah penghasilan.
“Kalau order lagi sepi atau anyep, saya bikin kue di rumah. Lumayan buat nambah-nambah, yang penting dapur tetap ngebul,” katanya.
Pengalaman tak terlupakan juga datang saat ia terlibat dalam produksi film Kupu-Kupu Kertas di Banyuwangi sebagai figuran.
“Waktu itu saya senang sekali bisa ikut syuting. Walaupun cuma figuran, tapi pengalaman baru. Saya sampai bolak-balik puluhan kilometer selama lima hari,” kenangnya.
Dari keterlibatan itu, Laily mendapat honor Rp100 ribu. Meski kecil, ia tetap bersyukur.
“Bukan soal uangnya, tapi pengalaman dan cerita yang bisa saya bagi ke anak-anak,” tambahnya.
Supervisor aplikasi Joker, Dany Pedrosa, menyebut Laily sebagai salah satu dari empat driver perempuan atau “Srikandi” di wilayah Genteng.
“Laily ini termasuk yang paling gigih. Dia konsisten dan benar-benar menjadikan pekerjaan ini sebagai penopang ekonomi keluarga,” ujarnya.
Bagi Laily sendiri, semua yang dijalaninya adalah bentuk perjuangan seorang ibu.
“Saya ini cuma ibu biasa, tapi ingin anak-anak punya masa depan lebih baik. Selama masih kuat, saya akan terus kerja,” ucapnya.
Di momen Hari Kartini, kisah Laily menjadi bukti bahwa semangat emansipasi perempuan hidup di mana saja—bahkan di jalanan. Dengan tekad dan kerja keras, ia membuktikan bahwa perempuan juga mampu berdiri mandiri, menghadapi kerasnya hidup tanpa menyerah. (ep)

