Sambil Bawa Sertifikat Tanah, Warga Banyuwangi Menuntut ke Sebuah Perusahaan di Wilayah Kalipuro (Foto: Eko/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Abdul Hadi (69), warga Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, kembali mendatangi area PT Misi Mulia Petronusa (MMP) di Kecamatan Kalipuro, Rabu (26/08/2026). Dia datang bersama sejumlah warga untuk menuntut kejelasan atas tanah seluas 6.820 meter persegi yang diklaim sebagai milik keluarganya.
Hadi datang dengan membawa sertifikat tanah atas nama ayahnya, Suwardi. Menurutnya, lahan tersebut merupakan tanah keluarga yang telah dikuasai dan dimanfaatkan secara turun-temurun sejak sekitar 1970-an.
"Dari tahun 70-an tanah itu milik keluarga saya, atas nama Bapak saya Suwardi seluas 6.820 meter persegi yang sekarang dikuasai oleh PT MMP," kata Hadi sembari menunjukkan sertifikat tanahnya.
Hadi menuturkan, lahan yang berada di kawasan pesisir Kalipuro itu dulunya dipenuhi pohon kelapa. Hasil panen dari pohon tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan keluarganya.
Namun, Hadi menduga seluruh pohon kelapa di lahan tersebut ditebang pada 2015. Setelah itu, berdiri fasilitas pengisian LPG milik PT MMP di lokasi yang dia klaim sebagai tanah keluarganya.
"Pohon kelapa saya habis semua, sudah tidak ada yang untuk dipanen buat tambahan hidup," ujarnya.
Hadi mengaku pernah didatangi perwakilan PT MMP yang menawarkan skema sewa lahan. Nilai yang ditawarkan disebut mencapai sekitar Rp 20 juta per bulan.
Namun, Hadi mengaku lebih memilih menjual tanah tersebut. Dia menyebut harga yang sempat dibicarakan berada di angka Rp 1 juta per meter persegi.
Menurut Hadi, pembicaraan mengenai harga tersebut sempat menemukan kesepakatan. Akan tetapi, hingga kini dia mengaku tidak pernah menerima pembayaran dari perusahaan.
"Sempat ditawar di harga Rp 1 juta per meter dan bersepakat, namun tidak ada jawaban," ungkap Hadi.
Persoalan tersebut, menurut Hadi, telah berlangsung selama bertahun-tahun. Dia mengaku belum mendapatkan penyelesaian terkait tanah yang diklaim sebagai milik keluarganya.
Pada Rabu pagi, Hadi kembali mendatangi PT MMP bersama sejumlah warga lainnya. Mereka berharap bisa bertemu langsung dengan pihak manajemen untuk menyampaikan tuntutan dan mencari jalan keluar.
"Saya ke sini ikut dengan teman-teman yang juga meminta hak yang sama, tapi tidak ada yang ketemu," tegasnya.
Hadi berharap perusahaan dapat memberikan kejelasan mengenai status lahan tersebut dan membuka ruang dialog dengan warga yang mengklaim memiliki hak atas tanah di lokasi.
Saat hendak dikonfirmasi, pihak keamanan PT MMP menyebut jajaran direksi tidak berada di lokasi. Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan dari pihak manajemen PT MMP mengenai klaim kepemilikan tanah yang disampaikan Hadi. (ep)

