Siswa SMPN 1 Sempu Dibekali Kesiapsiagaan Bencana, Belajar dari Risiko di Lingkungan Sendiri

1SEMM.jpg Siswa SMPN 1 Sempu Dibekali Kesiapsiagaan Bencana Oleh Mahasiswa UNEJ Prodi Pendidikan Geografi FKIP (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Menjadi siswa baru bukan hanya tentang mengenal lingkungan sekolah dan teman-teman baru. Di SMPN 1 Sempu, Banyuwangi, para siswa juga mendapat pembekalan penting untuk mengenali dan menghadapi potensi bencana yang ada di sekitar mereka.


Kegiatan edukasi dan simulasi kebencanaan tersebut digelar pada 16 Juli 2026 oleh tim pengabdian Universitas Jember dari Program Studi Pendidikan Geografi FKIP. Kegiatan mengusung tema “Transformasi Pendidikan Kebencanaan melalui Pendekatan Blended Learning di SMPN 1 Sempu Banyuwangi.”


SMPN 1 Sempu berada di wilayah yang memiliki potensi bencana hidrometeorologi. Banjir dan longsor menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan, di samping berbagai ancaman bencana lainnya di wilayah Kecamatan Sempu. Kondisi tersebut membuat pemahaman mengenai kesiapsiagaan bencana menjadi penting diberikan kepada siswa sejak awal mereka memasuki lingkungan sekolah. 


Melalui kegiatan tersebut, siswa baru tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai bencana. Mereka diajak mengenali potensi risiko di lingkungan sekitar, memahami langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi bencana, serta mempraktikkan proses evakuasi.


Pembelajaran dikemas dengan pendekatan blended learning. Materi kebencanaan disajikan melalui Google Sites sehingga siswa dapat mengaksesnya secara digital. Materi tersebut mencakup berbagai jenis bencana, termasuk bencana yang relevan dengan kondisi lokal Banyuwangi, serta langkah mitigasi sebelum, saat, dan setelah bencana. 


Setelah mendapatkan materi, siswa kemudian diajak melakukan simulasi evakuasi. Bagian ini menjadi penting karena siswa tidak hanya dituntut mengetahui apa itu bencana, tetapi juga belajar bagaimana harus bersikap ketika menghadapi situasi darurat.


Heris Hulay Fitern, selaku guru IPS SMPN 1 Sempu, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, edukasi kebencanaan penting diberikan kepada siswa karena kondisi lingkungan sekolah dan wilayah sekitar memiliki potensi risiko bencana.


“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi siswa, terutama siswa baru, karena mereka perlu mengenal lingkungan sekolah sekaligus mengetahui potensi bencana yang ada di sekitar. Dengan adanya materi dan simulasi, siswa tidak hanya mengetahui secara teori, tetapi juga memiliki gambaran tentang apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” ujar Heris.


Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari budaya sekolah, bukan hanya kegiatan yang dilakukan pada waktu tertentu.


Ketua tim pengabdian, Inaz Khusnul Khotimah, M.Pd., mengatakan bahwa edukasi kebencanaan perlu diberikan dengan cara yang dekat dengan kehidupan siswa.


“Yang ingin dibangun bukan hanya pengetahuan tentang bencana, tetapi juga kesiapan siswa ketika menghadapi risiko bencana di lingkungan mereka. Karena itu, materi yang diberikan kemudian langsung dipraktikkan melalui simulasi,” ujarnya.


Menurutnya, siswa yang memahami kondisi lingkungan tempat mereka belajar akan lebih mudah mengenali risiko dan menentukan tindakan yang tepat ketika terjadi bencana.


Hal tersebut juga menjadi bagian dari penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di SMPN 1 Sempu. Sekolah telah memiliki inisiatif SPAB, namun masih diperlukan penguatan media pembelajaran digital dan kegiatan simulasi agar pendidikan kebencanaan dapat berlangsung lebih interaktif dan berkelanjutan. 


Kegiatan ini tidak dirancang berhenti setelah siswa mengikuti pelatihan. Google Sites yang dikembangkan oleh tim Universitas Jember diharapkan dapat terus dimanfaatkan sekolah sebagai media belajar kebencanaan.


Dengan adanya media tersebut, siswa dapat kembali mempelajari materi secara mandiri. Guru juga dapat memanfaatkannya sebagai bagian dari pembelajaran dan kegiatan SPAB di sekolah. 


Manfaat lainnya adalah siswa diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai apa yang harus dilakukan sebelum bencana, ketika bencana terjadi, dan setelah bencana. Pengetahuan tersebut penting karena siswa merupakan bagian dari komunitas sekolah yang setiap hari beraktivitas di lingkungan yang sama.


Lebih jauh, kemampuan yang diperoleh siswa diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri. Siswa dapat menjadi bagian dari penyebaran pengetahuan kesiapsiagaan kepada teman, keluarga, maupun masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.


Dengan demikian, edukasi kebencanaan di SMPN 1 Sempu diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun budaya siaga bencana, bukan sekadar kegiatan simulasi yang dilakukan sesekali.


Melalui perpaduan pembelajaran digital dan praktik langsung, siswa baru SMPN 1 Sempu tidak hanya mengenal sekolah barunya, tetapi juga belajar mengenali lingkungan, risiko, dan cara menjaga keselamatan diri serta orang-orang di sekitarnya. (*)