
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Demam sound horeg atau sound sistem bersuara keras dimanfaatkan dua sahabat asal Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, Banyuwangi untuk meraup pundi-pundi rupiah. Caranya pun terbilang sederhana. Menciptakan miniatur sound horeg yang terbuat dari triplek.
Adalah Ahmad Fitrik Antoni (35) dan Rizal Harianto (30), dua pria asal Dusun Tojolor, Desa Temuguruh yang belum genap triwulan ini menggarap kesenian miniatur sound horeg. Siapa sangka dari alasan yang sederhana, tangan kreativitas keduanya berhasil menelurkan ide yang menghasilkan cuan.
"Awalnya anak saya merengek minta dibelikan kendaraan truk kecil terus dikasih sound sistem. Karena terbentur harga akhirnya tak buatkan sendiri. Tapi kok kemudian dilirik oleh beberapa tetangga untuk dibeli," kata Antoni, Minggu (05/01/2025).
Merasa ada peluang manis, Antoni lantas menawari sahabatnya Harianto untuk kolaborasi membuat miniatur sound horeg. Ide gagasan yang ditawarkan diamini oleh Harianto.
Jadilah dua sahabat ini mengkonsep rancangan miniatur sound horeg yang lebih sempurna dan mendekati aslinya. Antoni yang buat kendaraan sedangkan Harianto bertugas merakit sound sistem.
Bahan pembuatan kendaraan itu terbuat dari triplek sederhana yang dipotong beberapa bagian lalu disambung menggunakan lem.
"Pakai lem G itu buat merekat bagian-bagian triplek yang sudah dipotong," tambah Antoni.
Butuh ketelitian dan ketelatenan saat merakit satu persatu potongan triplek itu. Karena sudah paham celah, Antoni hanya membutuhkan waktu dua hari sampai proses penempelan stiker.
Stiker itu diberikan pada sisi pinggir bak truk dan kabin. Sentuhan stiker itu yang kemudian menambah pakem miniatur yang dibuat.
Stiker itu, lanjut Antoni, diperoleh melalui pembelian di platform jual beli online. Stiker yang ditempel tergantung permintaan konsumen yang kepingin desain seperti apa.
"Stiker yang ditempelkan dibeli melalui online dari Lumajang. Desain stiker sesuai dengan permintaan konsumen," terangnya.
Setelah rampung barulah dipasangi kotak (boks) berisikan soud sistem kecil yang sudah dibuat oleh Heriyanto. Dipadukan kedua kreasi itu sehingga muncul suara yang sumber dayanya dari aki maupun baterai.
Untuk satu miniatur sederhana, Antoni mematok harga Rp400.000 sedangkan yang paling mewah dan mirip dengan truk sound horeg dibanderol harga sampai Rp1,5 juta.
"Paling mahal di harga Rp1,5 juta. Itu bahannya kami ambilkan dari yang kualitas wahid dan tentunya suaranya lebih menggelegar," ungkapnya.
Sejauh ini pasar miniatur sound horeg masih diminati kalangan orang tua dan pemuda yang tertarik dan memang penggemar sound horeg. Bukan hanya dari Banyuwangi, kreasi Antoni dan Heriyanto ini sudah menembus pasar luar kabupaten.
"Paling jauh ada yang dari Jember," ujarnya.
Beruntung bahan pembuatan miniatur ini mudah didapatkan. Hanya saja stiker yang ditempel masih dipesan Antoni melalui jalur daring.
Sebulan, Antoni dan Heriyanto mampun memproduksi 5 sampai 10 unit. Kini, kreasi miniatur sound horeg ini bisa jadi tambahan kepulan asap di dapur kedua pria itu. (ep)