Perajin Genteng, Yudi di Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi (Foto: Riqi/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi – Wacana program “Gentengisasi” yang disampaikan Presiden Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di Bogor pada awal Februari 2026 lalu, turut menjadi perbincangan di berbagai daerah. Di Banyuwangi, istilah tersebut mengingatkan pada satu desa yang sejak lama dikenal sebagai sentra produksi genteng.
Desa Kedunggebang, Kecamatan Tegaldlimo, menjadi salah satu wilayah di ujung timur Pulau Jawa yang mayoritas warganya menggantungkan hidup dari produksi genteng. Hampir di setiap rumah terdapat area produksi, mulai dari tempat pencetakan hingga lokasi penjemuran.
Salah satu perajin genteng di desa tersebut adalah Yudi (35). Ia melanjutkan usaha orang tuanya sebagai produsen genteng yang telah dijalankan selama bertahun-tahun.
Menanggapi wacana proyek Gentengisasi yang disebut Presiden Prabowo, Yudi menyambut positif.
“Iya paling benar ya genteng, kalau asbes atau seng kan panas,” ujarnya, Minggu (08/02/2026).
Proses pembuatan genteng di Kedunggebang masih dilakukan secara tradisional. Tahapannya dimulai dari pengambilan tanah liat di sawah, pengolahan bahan, pencetakan, hingga pengeringan yang mengandalkan panas matahari. Lama pengerjaan sangat bergantung pada kondisi cuaca.
Di tempat produksi miliknya, Yudi mampu menampung sekitar 1.000 genteng dalam sekali proses. Saat ini, ia mengaku belum menerima pesanan dalam jumlah besar dan masih memproduksi untuk stok.
Menurut Yudi, permintaan genteng dalam beberapa waktu terakhir mengalami penurunan. Ia menyebut masyarakat kini banyak menggunakan atap berbahan asbes atau seng.
“Permintaan masih ada, tapi turun,” ucapnya.
Yudi memproduksi empat jenis genteng, yakni Uwung, Mantili, Press, dan Karangpilang. Untuk genteng jenis Uwung, harga jualnya Rp4.000 per buah jika diambil langsung di lokasi produksi. Sementara untuk pengiriman, harga berkisar Rp6.000 hingga Rp7.000 per buah termasuk ongkos kirim.
Pantauan di Desa Kedunggebang menunjukkan tidak semua tempat produksi masih aktif. Sejumlah lokasi terlihat tidak lagi beroperasi, ditandai dengan bangunan produksi yang terbengkalai dan tertutup.
Di tengah wacana Gentengisasi yang ramai diperbincangkan, Desa Kedunggebang tetap menjadi salah satu pusat produksi genteng tradisional di Banyuwangi. (rq)

