
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - PT Perkebunan Lidjen memulai program penanaman ulang (replanting) tanaman cengkeh di lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang berada di bawah lereng Gunung Ijen, Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Kabupaten Banyuwangi.
Langkah ini dilakukan untuk mengatasi penurunan produksi hasil panen akibat banyaknya pohon cengkeh yang rusak dan tidak produktif.
Wakil Direktur PT Perkebunan Lidjen, Suprayogi Tanoerahardjo, menjelaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan 20.000 bibit cengkeh untuk menggantikan pohon-pohon yang rusak.
"Sudah berapa puluh tahun cengkeh se-Pulau Jawa banyak yang rusak, bahkan sudah ditunggu hingga 10 tahun tidak ada perubahan juga, sudah diobat tetap gak bisa baik. Maka, Kita putuskan tanam ulang," kata Yogi, pada Sabtu (25/01/2025).
Meski tanam ulang mengurangi pemasukan perusahaan, pihaknya bertekad untuk perubahan yang berdampak pada perusahaan maupun masyarakat sekitar yang bekerja.
"Kalau kita cuma bertahan begitu, pekerjaan juga tidak ada, yang dipetik juga pohon yang sakit. Makanya kita adakan program tanam ulang," ujarnya.
Penanaman ulang akan dilakukan secara bertahap di lahan seluas 160 hingga 200 hektar. "Kebutuhan sebenarnya hanya 17.000 bibit, tetapi kami siapkan 20.000 untuk antisipasi. Jika cuaca mendukung, kami targetkan semua bibit bisa ditanam dan kalau bisa mulai subur tahun ini," tambahnya.
Yogi juga mengungkapkan bahwa produksi cengkeh perusahaan mengalami penurunan hingga 70% dalam satu dekade terakhir. Penyebab utama adalah penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC), yang membuat ranting kering hingga pohon mati.
"Normalnya dulu satu pohon bisa menghasilkan 200 kilogram sekali petik, kalau sekarang mana ada, satu karung setengah (70 kilogram) aja udah syukur. Masa panen yang biasanya berjalan empat bulan, kini hanya dua bulan," bebernya.
Selain itu, kondisi cuaca di kawasan Gunung Ijen juga menjadi tantangan. Cengkeh membutuhkan 100 hari panas terus-menerus untuk tumbuh optimal, sedangkan di wilayah ini sering terjadi hujan dan mendung.
Dari total 1.545 hektar lahan, PT Perkebunan Lidjen saat ini mengalokasikan 500 hektar untuk tanaman cengkeh dan sisanya untuk kopi.
Yogi menyebutkan bahwa kopi menjadi alternatif yang lebih menguntungkan karena panen bisa dilakukan setiap tahun, sedangkan cengkeh butuh 5 sampai 8 tahun untuk bisa panen.
"Kenapa kita banyak ditanami kopi, karena kopi itu setiap tahun panen, kita mendukung kesejahteraan masyarakat untuk memberikan mereka pekerjaan," tandasnya.
Saat ini, PT Perkebunan Lidjen mempekerjakan hampir 200 warga Desa Tamansari, Kecamatan Licin. Program replanting ini diharapkan dapat memulihkan produktivitas cengkeh di wilayah Banyuwangi sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Walaupun mengalami penurunan hasil cengkeh, PT Perkebunan Lidjen tak lepas dari tanggung jawab memberikan corporate social responsibility (CSR) bagi masyarakat sekitar. Terbukti, pada Sabtu (25/01/2025) perkebunan memberi bantuan material untuk membangun plengsengan sungai. (rq)