Kohati Banyuwangi saat Audiensi dengan Plt Kepala Dinsos PPKB Banyuwangi (Foto: Miswan/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Korps HMI-Wati (Kohati) Cabang Banyuwangi menggelar audiensi dengan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi, Selasa (19/05/2026). Pertemuan yang berlangsung di Kantor Dinsos PPKB Banyuwangi itu membahas upaya pengawalan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Banyuwangi.
Audiensi tersebut dihadiri jajaran pengurus Kohati Banyuwangi bersama Plt Kepala Dinsos PPKB Banyuwangi, Setyo Puguh Widodo beserta sejumlah staf dinas.
Ketua Umum Kohati Cabang Banyuwangi, Nova Rosytha mengatakan, persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama, baik di tingkat daerah maupun nasional.
"Isu kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan serius, khususnya di Kabupaten Banyuwangi, baik di ruang domestik, umum, hingga lingkungan lembaga pendidikan yang berbasis keagamaan" kata Nova.
Menurut dia, minimnya kesadaran literasi masyarakat serta perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat turut memengaruhi pola kekerasan seksual yang semakin kompleks.
Karena itu, dibutuhkan langkah pencegahan dan penanganan yang lebih adaptif serta melibatkan berbagai pihak.
“Minimnya kesadaran literasi dan pemanfaatan perkembangan teknologi informasi turut memengaruhi pola kekerasan seksual yang semakin kompleks sehingga membutuhkan langkah pencegahan dan penanganan yang kolaboratif,” ujarnya.
Nova menambahkan, Kohati Cabang Banyuwangi siap mengambil peran dalam menciptakan ruang aman bagi perempuan dan anak melalui penguatan advokasi, edukasi publik, serta sinergi lintas sektor.
“Kohati siap menjadi bagian dalam mencegah dan menciptakan ruang aman bersama,” ucapnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam memanfaatkan media sosial dan perkembangan teknologi digital.
“Stop kekerasan baik verbal maupun non verbal. Harapannya, kita semua bisa menjadi ruang aman di setiap sisi lingkungan kita,” kata Nova.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kabupaten Banyuwangi, Setyo Puguh Widodo menyebut kasus kekerasan terhadap anak menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
“Kasus kekerasan, utamanya terhadap perempuan dan anak, menjadi perhatian yang sangat serius bagi kami dan pemerintah daerah. Beberapa upaya pencegahan telah kami lakukan, termasuk turun langsung ke desa-desa,” kata Setyo.
Menurut dia, perkembangan teknologi memiliki pengaruh besar terhadap pola interaksi sosial masyarakat, terutama di kalangan anak dan remaja.
“Dalam satu genggaman kita bisa mengakses apa pun. Karena itu, peningkatan literasi dan kemampuan memilih penggunaan teknologi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Setyo menilai, terdapat sejumlah faktor yang menjadi pemicu kekerasan seksual, mulai dari pergaulan bebas, pernikahan dini, hingga persoalan ekonomi.
Ia juga mendorong pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi yang efektif bagi generasi muda.
“Kita bisa memanfaatkan TikTok maupun Instagram Reels karena saat ini masyarakat lebih menyukai informasi yang singkat namun pesan yang disampaikan tetap jelas,” katanya.
Selain itu, ia berharap organisasi kepemudaan seperti Kohati dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengedukasi masyarakat, khususnya kalangan sebaya.
“Kami membutuhkan anak-anak muda seperti Kohati untuk ikut merangkul teman-teman sebaya dalam mencegah tren kekerasan saat ini melalui konten yang menarik, edukatif, dan konsisten,” tutupnya. (*)

