Panduan Salat Anak Skena Viral, Ada Ilustrator Asal Banyuwangi di Baliknya

IMG_9887.PNG Zine Panduan Salat Anak Skena oleh SkeNU x Muhammad Iqbal (Foto: SkeNU_id)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI - Panduan salat biasanya hadir dalam bentuk buku saku dengan tampilan formal. Namun, konsep itu diubah menjadi lebih segar lewat Panduan Salat Anak Skena, sebuah zine yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.


Di balik ilustrasi yang mencuri perhatian tersebut, ada sosok Muhammad Iqbal (32), ilustrator sekaligus comic artist asal Kecamatan Genteng, Banyuwangi, yang berkolaborasi dengan skeNU, ruang kreatif anak muda yang tumbuh dari tradisi Islam Indonesia.


Alih-alih menggunakan format buku konvensional, panduan ini dikemas dalam bentuk zine dengan gaya visual yang dekat dengan kultur independen, komunitas kreatif, dan estetika anak skena. Pendekatan tersebut bukan untuk mengubah makna ibadah, melainkan menghadirkan cara penyampaian yang lebih akrab dengan keseharian generasi muda.


Kepada BWI24Jam pada Minggu (2/8/2026), Iqbal menjelaskan alasan dipilihnya format zine.


“Kalau konsep pilihan medianya sendiri sesederhana karena dia collectible. Soalnya kalau ngomong efektivitas, sepertinya lebih efektif distribusi online. Tapi media cetak rasanya tetap lebih dekat ke audiens,” ujarnya.


Menurut Iqbal, isi zine tersebut lahir dari diskusi yang selama ini ia jalani di Pondok Pesantren Budaya Kaliopak, Yogyakarta.


“Di sana banyak mempelajari agama dari sudut pandang yang lebih dalam, di sisi spiritualnya, nggak cuma ritualnya, dan ditambah sisi sosialnya, bagaimana keberagamaan bisa jadi solusi transformasi sosial, minimal transformasi diri jadi lebih baik, yaitu dengan penghayatan dan pemahaman yang benar dan mendalam. Salah satunya sesederhana soal salat, yang kami bahas di zine itu,” katanya.


Proses pengerjaan zine berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan. Iqbal berperan sebagai ilustrator, sementara penyusunan isi dan tata letak dikerjakan oleh tim SkeNU.


“Keseluruhan proses mungkin dua sampai tiga bulanan ya, soalnya nyambi macam-macam, karena bukan proyek utama. Saya sendiri cuma terlibat di bagian ilustrasi, sementara layout dan isi dari teman-teman SkeNU,” jelasnya.


Di balik proses kreatif tersebut, Iqbal mengaku tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri.


“Tantangan terbesar mungkin membagi waktu, hehe. Dan secara internal ada juga perasaan tidak layak menyampaikan sesuatu yang belum bisa saya laksanakan sepenuhnya. Tapi kalau tidak salah juga godaan setan salah satu bentuknya seperti itu. Jadi ya sudah, niat menyampaikan kembali apa yang disampaikan guru-guru kami, dengan bahasa yang lebih segar,” ungkapnya.


Melalui karya ini, Iqbal berharap zine tersebut dapat menjadi media komunikasi sekaligus ruang diskusi yang lebih dekat dengan anak-anak muda.


“Harapannya menjadi tawaran media komunikasi dan pemantik diskusi yang menarik kepada teman-teman skena nan artsy. Karena kami melihat ketertarikan kepada yang spiritual ini sebetulnya terus ada, tapi sayangnya tidak banyak saluran untuk mendapatkannya. Ada kejenuhan pada ekspresi beragama yang kaku dan dangkal. Kami berusaha jadi corong pengeras saja, menyampaikan kembali apa yang guru-guru kami sampaikan, guru-guru yang tulus mengajar dalam majelis yang kedap kepentingan,” tutupnya. (rq)