Diskusi Publik KOHATI Banyuwangi pada Minggu, 14 Desember 2025 (Foto: Istimewa/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Banyuwangi memperingati 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) dengan menggelar diskusi publik di Aula Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Banyuwangi, Minggu (14/12/2025).
Kegiatan ini menjadi wujud keterlibatan aktif Kohati sebagai badan semi otonom Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang selama ini fokus mengawal isu perempuan dan anak. Peringatan 16 HAKTP sendiri berlangsung setiap tahun dari 25 November, yang diperingati sebagai Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, hingga 10 Desember, Hari Hak Asasi Manusia.
Ketua Panitia, Dwi Cahya Oktavia, mengatakan bahwa rangkaian 16 hari tersebut bukan sekadar agenda seremonial. “Penghubung dua tanggal ini menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan adalah pelanggaran HAM, bukan urusan privat yang bisa ditoleransi,” ujar Oktavia.
Tahun ini, Kohati Banyuwangi mengusung tema “Mengurai Akar Kekerasan terhadap Perempuan: Perspektif Sosial, Hukum, dan Ekonomi.” Tema tersebut dibahas bersama tiga narasumber, yakni Psikolog Fitriatul Masruroh, akademisi hukum Nikmatul Keumala Nofa Yuwono serta Ira Rachmawati, yang mengulas persoalan kekerasan terhadap perempuan dari berbagai sudut pandang.
Ketua Umum KOHATI Cabang Banyuwangi, Nova Rosytha, menekankan pentingnya keberanian untuk menolak dan melaporkan segala bentuk kekerasan. Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan kerap dinormalisasi karena dianggap biasa atau aib. “Padahal, diam justru membuat kekerasan terus berulang,” kata Nova.

Ia menambahkan, kegiatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran publik, mendorong advokasi, serta memperkuat aksi nyata untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan. Lanjutnya, Kohati siap menjadi ruang aduan dan pendampingan bagi perempuan korban kekerasan, khususnya kekerasan seksual.
Sementara itu, perwakilan HMI Cabang Banyuwangi, Muhamad Miswan, mengingatkan bahwa perempuan memiliki peran yang sangat vital dalam peradaban Islam. Ia mencontohkan sosok Siti Khadijah yang mendukung perjuangan Rasulullah SAW, termasuk secara ekonomi. “Perempuan itu juga ibu kita. Selama kekerasan terhadap perempuan masih ada, berarti kita sedang mengingkari peran mulia tersebut,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Hartini, perwakilan Dispora Kabupaten Banyuwangi, menyampaikan apresiasi kepada Kohati yang dinilainya sebagai organisasi pertama yang menggelar kegiatan 16 HAKTP di lingkungan Dispora. “Kami menyambut baik inisiatif ini dan siap mendukung kegiatan positif yang berfokus pada penguatan kualitas sumber daya manusia serta perlindungan hak-hak perempuan,” katanya.
Melalui peringatan 16 HAKTP ini, Kohati Banyuwangi berharap semakin banyak pihak terlibat aktif dalam mencegah dan menghapus kekerasan terhadap perempuan, tidak hanya sebagai wacana, tetapi sebagai gerakan bersama. (*)

