Ilustrasi AI
BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Seorang pemuda berinisial LR (18), warga Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi, diduga menjadi korban pengeroyokan dan penganiayaan oleh sekelompok oknum pesilat di wilayah Kecamatan Bangorejo.
Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (18/1/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun, saat kejadian korban tengah mengendarai sepeda motor seorang diri sepulang dari Desa Jajag, Kecamatan Gambiran. Di lokasi kejadian, korban berpapasan dengan rombongan pemuda yang mengenakan seragam PSHT.
Korban kemudian diberhentikan, dan tanpa adanya percakapan terlebih dahulu, sejumlah pemuda tersebut diduga langsung melakukan pengeroyokan. Korban diketahui mengenakan atribut perguruan IKS, yang disebut menjadi perhatian para pelaku. Dalam kejadian tersebut, kaos milik korban diduga dirampas dan hingga kini belum dikembalikan.
Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami luka dan sempat tidak sadarkan diri. Warga yang berada di sekitar lokasi kemudian membawa korban ke Puskesmas Kebondalem untuk mendapatkan perawatan medis. Setelah itu, korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Bangorejo.
Peristiwa ini juga disaksikan oleh sejumlah warga di sekitar tempat kejadian. Salah seorang saksi menyebutkan bahwa penganiayaan berlangsung dengan keras.
“Penganiayaannya sangat brutal, diinjak-injak dan ditendang di bagian wajah,” ujar saksi.
Saksi juga menyampaikan bahwa beberapa warga sempat merasa takut untuk memberikan pertolongan karena situasi di lokasi kejadian.
Kakak korban, Indah, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, LR sempat mengantar ibunya ke Terminal Jajag. Setelah itu, korban langsung pulang dan tengah mengenakan kaos perguruan IKS.
“Setelah mengantar ibu, adik saya langsung pulang. Di jalan berpapasan dengan rombongan pemuda yang mengenakan atribut PSHT, lalu diberhentikan dan dikeroyok,” ujar Indah, Senin (19/01/2026).
Ia menambahkan bahwa kejadian tersebut berlangsung di kawasan Dam Sere, Bangorejo, yang merupakan lokasi cukup ramai. Meski banyak warga yang melihat, tidak banyak yang berani memberikan pertolongan.
Menurut Indah, pertolongan baru datang setelah seorang warga merekam kejadian dan seorang pedagang jagung di sekitar lokasi berani melerai.
"Banyak banget isu damai di luaran sana. yang jelas kita sekeluarga udah sepakat gak akan ada kata damai sampai kapanpun. para pelaku harus di adili seadli-adilnya," pungkasnya.
Hingga berita ini ditulis, kasus dugaan pengeroyokan tersebut masih dalam penanganan pihak kepolisian. (*)

