Timur Tengah Terdampak Perang AS–Israel vs Iran, Kondisi Jemaah Umrah Asal Banyuwangi Dipantau

1kemen.jpg Kasubag Tata Usaha Kantor Kemenhaj Kabupaten Banyuwangi, Imam Mustakim (Foto: Riqi/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran meningkat tajam setelah serangan udara gabungan AS-Israel terhadap berbagai target di Iran pada 28 Februari 2026 lalu.


Situasi tersebut turut berdampak pada kondisi keamanan di kawasan sekitar Iran dan wilayah Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, yang menjadi lokasi pelaksanaan ibadah umrah di Tanah Suci Mekkah dan Madinah selama bulan Ramadan.


Kondisi jemaah umrah asal Banyuwangi, Jawa Timur, saat ini terus dipantau oleh Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Banyuwangi.


Plt. Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Banyuwangi, H. Rifan Junaidi melalui Kasubag Tata Usaha Imam Mustakim menyampaikan bahwa kondisi perang tentu berdampak terhadap perjalanan umrah.


"Sesuai arahan Wakil Menteri Haji bahwa jemaah umrah agar selalu koordinasi dengan travel yang bersangkutan," kata Imam, pada Kamis (05/03/2025).


Hingga Kamis (05/03/2026), Kemenhaj Banyuwangi masih melakukan pendataan terhadap jemaah yang sedang menjalankan ibadah umrah maupun yang dijadwalkan berangkat.


"Di Banyuwangi ada sembilan travel yang resmi yang kita data, masih proses, ada travel yang hari ini posisinya memimpin umrah, dan dapat informasi mereka kondisinya baik-baik saja, dan ada juga yang tidak memberangkatkan," terangnya.


Pihaknya mengimbau jemaah yang sedang berada di Tanah Suci untuk terus berkoordinasi dengan pihak travel sembari menunggu stabilitas situasi di kawasan Timur Tengah.


"Untuk jemaah yang punya jadwal keberangkatan, lebih baik menunda sampai kondusif keadaan di Timur Tengah," imbaunya.


Sementara itu, salah satu travel umrah, Kubah Hijau, menyampaikan bahwa jemaah mereka saat ini sedang berada di Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah selama Ramadan. Jumlahnya sekitar 200 orang termasuk pendamping.


"Saat ini kita ada umrah Full Ramadan hampir sebulan, Alhamdulillah pas sudah sampai sana (Arab Saudi) saat belum ada isu pemberhentian pesawat," kata Adinda Hanny Arifiana selaku Marcom Kubah Hijau.


"Alhamdulillah keadaan sekarang aman, sehat, sudah menjalankan ibadah umrah keduanya bahkan," ungkapnya.


Untuk program berikutnya, yaitu Lailatul Qadar yang dijadwalkan berangkat sebelum Hari Raya Idulfitri dan program Syawal setelah Idulfitri, pihak travel memutuskan untuk menunda keberangkatan.


"Untuk program selanjutnya, di Kubah Hijau yaitu Lailatul Qadar (berangkat sebelum hari raya idulfitri) dan Syawal (berangkat setelah idulfitri), kita tunda karena ada dampak perang itu dan situasi belum sepenuhnya kondusif sesuai arahan pemerintah," jelas Hanny.


"Kita udah mengumpulkan jemaah dan sepakat, diberangkatkan di Bulan Juni 2026," ujarnya.


Terkait kepulangan sekitar 200 jemaah yang saat ini berada di Tanah Suci, pihak travel menyatakan masih terus memantau perkembangan situasi di Timur Tengah serta berkoordinasi dengan pemerintah Indonesia.


Selama bulan Ramadan 2026, menurut Hanny, jumlah jemaah umrah meningkat signifikan. Pihak travel berharap adanya pembatasan visa dari pemerintah Arab Saudi maupun pemerintah umrah agar jumlah jemaah tidak membludak di Tanah Suci sehingga pelaksanaan ibadah dapat berjalan lebih lancar. (rq)