Penguatan Dukungan Mitra Potensial dalam Penggerakan GERMAS di Dinkes Banyuwangi (Foto: Riqi/BWI24Jam)
BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyuwangi menyoroti meningkatnya kasus penyakit metabolik yang kini mulai banyak menyerang kelompok usia muda. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan utama sektor kesehatan di tahun 2026.
Hal ini disampaikan dalam kegiatan penguatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang digelar di Aula dr. Rasad Oesman Dinkes Banyuwangi, Rabu (06/05/2026), dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat, mengungkapkan bahwa penyakit metabolik menjadi prioritas penanganan karena jumlah kasusnya terus meningkat, termasuk pada usia yang lebih muda
"Tantangan pertama yang menjadi prioritas adalah penyakit metabolik yang saat ini meningkat signifikan, tidak hanya meningkat jumlahnya, tapi juga meningkat kasus yang usianya lebih muda," kata Amir.
Ia menyebutkan bahwa tren ini sejalan dengan hasil cek kesehatan gratis sepanjang 2025 yang menunjukkan sekitar 20 persen penduduk Banyuwangi mengalami hipertensi.
Menurut Amir, hipertensi menjadi faktor risiko utama yang memicu berbagai penyakit serius seperti jantung, stroke, dan gagal ginjal. Jika tidak dikendalikan, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan lonjakan kasus di masa mendatang.
"Nah ini diperkirakan akan menjadi lonjakan kalau tidak kita tahan. Untuk bisa ngeremnya ini cukup simple, ngeremnya itu memastikan asupan nutrisi kita itu berkualitas makan dengan cukup berkualitas, kurangi gula, garam, dan lemak dan aktivitas fisik yang cukup 150 menit setiap minggu atau 30 menit seharI," terangnya.
Selain itu, Dinkes juga menyoroti angka kematian ibu dan bayi yang meskipun mengalami penurunan, masih menjadi perhatian. Pada 2024 tercatat 28 kasus kematian ibu, kemudian turun menjadi 19 kasus pada 2025. Namun, angka tersebut dinilai masih bisa ditekan melalui upaya pencegahan yang lebih optimal.
Permasalahan lain yang diungkap adalah tingginya angka anemia pada remaja putri yang mencapai 25,4 persen. Kondisi ini berisiko berlanjut hingga masa kehamilan dan dapat berdampak pada keselamatan ibu serta bayi yang dilahirkan.
Di sisi lain, kasus tuberkulosis (TBC) juga masih cukup tinggi dengan total 3.169 kasus baru di Banyuwangi. Dinkes juga mencatat masih adanya capaian imunisasi yang belum optimal.
"Kita share supaya semua bisa berperan aktif memberikan dukungan bagaimana mengangkat beban ini bersama. Tidak ada beban yang berat kalau kita tanggung bersama," tutupnya.
Melalui penguatan GERMAS, Dinkes mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya pencegahan dan pengendalian berbagai permasalahan kesehatan tersebut, sehingga beban kesehatan dapat ditangani secara bersama-sama. (rq)

