BMKG Ungkap Penyebab Angin Kencang yang Rusak Belasan Rumah di Purwoharjo Banyuwangi

IMG-20260728-WA0027.jpg Tangkapan Layar Rekaman Video Angin Puting Beliung di Wilayah Purwoharjo (Foto: Istimewa/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, BANYUWANGI – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap penyebab angin kencang yang menerjang Dusun Ngadirejo, Desa Bulurejo, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi, hingga merusak belasan rumah warga pada Minggu (26/7/2026). Fenomena tersebut dipicu menguatnya Angin Monsun Timur atau Angin Monsun Australia yang saat ini melintasi wilayah Jawa Timur.


Peristiwa angin kencang di Bulurejo mengakibatkan sedikitnya belasan rumah mengalami kerusakan pada bagian atap, baik genteng maupun asbes. Sejumlah pohon juga tumbang dan menimpa rumah warga. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. BPBD Banyuwangi bersama aparat dan pemerintah desa telah menyalurkan bantuan darurat kepada warga terdampak.


Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Banyuwangi Teguh Tri Susanto mengatakan, saat ini Banyuwangi telah memasuki puncak musim kemarau. Kondisi tersebut ditandai dengan menguatnya Angin Monsun Timur yang dipicu perbedaan tekanan udara antara Benua Australia dan Benua Asia.


"Massa udara selalu bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Saat ini Benua Australia sedang mengalami musim dingin sehingga terbentuk pusat tekanan udara tinggi, sedangkan Benua Asia mengalami musim panas dengan tekanan udara rendah. Pergerakan udara dari Australia menuju Asia inilah yang dikenal sebagai Angin Monsun Timur atau Angin Timuran," kata Teguh Tri Susanto.


Menurut Teguh, perbedaan gradien tekanan udara yang cukup tinggi menyebabkan kecepatan angin meningkat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut berpotensi memicu angin kencang di sejumlah wilayah, termasuk Banyuwangi.


"Perbedaan gradien tekanan yang cukup tinggi antara Australia dan Asia menyebabkan lonjakan kecepatan angin. Karena itu masyarakat merasakan hembusan angin yang lebih kencang dibandingkan biasanya," ujarnya.


BMKG memprakirakan kondisi tersebut masih akan berlangsung selama puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi hingga Agustus 2026. Di Banyuwangi, angin dominan bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan suhu udara berkisar 16 hingga 28 derajat Celsius.


Selain berpotensi menimbulkan kerusakan bangunan akibat angin kencang, BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) karena vegetasi mulai mengering.


"Kami mengimbau masyarakat agar berhati-hati saat beraktivitas yang berkaitan dengan api. Jangan membakar sampah sembarangan ataupun membuang puntung rokok di lokasi yang mudah terbakar karena risikonya cukup tinggi pada musim kemarau," tegas Teguh.


BMKG juga mengeluarkan peringatan bagi masyarakat pesisir dan pengguna transportasi laut. Dalam tiga hari ke depan, gelombang di Perairan Banyuwangi diperkirakan mencapai 1,25 hingga 2,5 meter, sedangkan di Selat Bali bagian selatan dan Perairan Selatan Pulau Bali berpotensi mencapai 2,5 hingga 4 meter.


"Kami meminta masyarakat, khususnya nelayan dan pengguna jasa penyeberangan, agar mewaspadai potensi angin kencang dan gelombang tinggi. Kondisi di Selat Bali bagian selatan berpotensi memengaruhi jalur penyeberangan Ketapang-Gilimanuk dan diperkirakan masih berlangsung hingga tiga hari ke depan," jelasnya.


BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG maupun aplikasi InfoBMKG. Dengan mengetahui prakiraan cuaca secara berkala, masyarakat diharapkan dapat mengantisipasi dampak angin kencang maupun potensi cuaca ekstrem lainnya selama puncak musim kemarau. (ep)