Dari Limbah Jadi Berkah, Sulam Kayu Sukses Serap Tenaga Emak-emak di Singojuruh Banyuwangi

singojuruh_bwi2025.jpg Emak-emak di Desa Gambor, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi saat Menyulam Limbah Kayu Milik Andriono (Foto: Eko/BWI24Jam)

BWI24JAM.CO.ID, Banyuwangi - Otak-atik limbah kayu ternyata bisa menghasilkan rupiah bahkan tetangga pun ikut kecipratan. Di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, tepatnya di Desa Gambor industri rumahan sulam kayu bekas bisa menyerap puluhan pekerja dengan latar belakang ibu rumah tangga.


Adalah pasutri Andriono (37) dan Indah Nur Kumala (35), mantan karyawan pabrik kayu inisiator usaha sulam limbah kayu tersebut. Tujuh tahun berjalan, sudah 20 karyawan bekerja dan menggantungkan penghasilan tambahan di tempat ini.


"Ada 20 orang yang bekerja disini hampir seluruhnya itu ibu-ibu dan kerjanya gantian tiap harinya. Hanya bagian pemotongan saja yang laki-laki," kata Andrino, Jumat (17/01/2025).


Andriono menyebut upah yang diberlakukan di tempatnya menggunakan sistemnya borongan. Semakin banyak yang didapat, semakin banyak pula rupiah yang masuk kantong.


Menurutnya, satu orang pekerja bisa menghasilan 60-70 potong. Dengan upah sepotong Rp1000. Jika sudah mahir bisa lebih dari jumlah tersebut. 


"Ada yang bisa sampai 90 pieces (potong). Mereka rata-rata telaten dan semangat maka itu yang jadi alasan kami kenapa memilih ibu-ibu selain membantu menambah penghasilan mereka," ungkapnya.


Bahan limbah kayu yang diperoleh, diungkap Andriono berasal dari pabrik kayu di wilayah Parijatah. Limbah itu kemudian disulam untuk digunakan kembali sebagai alas lemari ataupun produk olahan kayu lainnya.


Ide itu muncul saat dirinya ditawari manager pabrik untuk mengolah kayu limbah. Karena menghasilkan, Andriono dan istri memutuskan keluar dan fokus pada usaha ini.


Lambat laun usahanya terus berkembang. Dari yang semula nebeng modal dari pabrik sekarang sudah bisa mandiri. Dari yang semula hanya 10-20 potong kini bisa sampai 300 potong kayu limbah sulam siap kirim.


"Sehari bisa menghasilkan 300 pieces (potong). Dengan kebutuhan kayu limbah sebanyak 3 meter kubik sekali ambil. Sebulan bisa ambil tiga sampa kali," jelasnya.


Meski masih dikatakan rintisan, Andriono mengaku bersyukur bisa mempekerjakan tetangganya yang mayoritas emak-emak itu. Tak terbesit sedikitpun dalam benaknya usaha sulam limbah ini bakal menghidupi mereka ditengah sulitnya mencari pekerjaan.


Ditambah lagi ia bersama istri juga sempat merasakan pahit manis getirnya menjadi karyawan pabrik. 


"Gak nyangka saja bisa sampai sejauh ini. Tak kira hanya untuk menyambung hidup saya istri dan biaya sekolah anak-anak," ujarnya.


Andriono meyakini usaha sulam limbah ini bakal bertahan dari gempuran kondisi. Selain kebutuhan produk olahan kayu terus meningkat, usaha yang dirintisnya ini juga tetap bertahan selama pandemi melanda.


Meski begitu belum terpikirkan untuk menambah cabang sulam limbah seperti ini di tempat lain. Meski sebatas angan, Andriono mengungkap butuh modal besar ditambah tempat usaha yang mumpuni sepeti emperan rumah dan tanah kosong miliknya.


"Kalau angan-angan pasti ada akan tetapi gak tau kapan bisa. Ditelateni yang ada dulu yang penting bisa bayar karyawan dan kulakan kayu," tutupnya. (ep)